Kamis, 04 November 2010

Meningkatkan Minat Belajar Siswa

Meningkatkan Minat Belajar dengan Metode Permainan

Metode mengajar di depan kelas melalui ceramah terkadang membuat para siswa bosan, jenuh dan kurang antusias sehingga dibutuhkan metoda mengajar dengan cara lainnya seperti metode permainan yang digagas guru dari SMU Xaverius 1 Jambi, Fransisca Indrihapsari, Spd yang menemukan metode mengajar dengan transaksi permainan ekonomi.




Metode mengajar dengan pola Transaksi Permainan Ekonomi itu untuk pertamakalinya diperkenalkan oleh Fransisca Indrihapsari berdasarkan pengalamannya selama mengajar di SMU Xaverius 1 Jambi.

"metode mengajar dengan permainan ini atau disebut transaksi permainan ekonomi sengaja saya ciptakan untuk kepentingan mengajar, " kata Fransisca kepada Koran Jakarta, Senin (25/10).

Menurutnya, metode ceramah yang diterapkan kebanyakan guru selama ini sering membuat para siswa bosan, jenuh dan kurang antusias atau bersemangat ketika belajar sehingga hasil yang diperoleh siswa juga kurang maksimal.

Oleh karenanya, siswa butuh penyegaran dengan metode pengajaran lainnya sehingga dia memperkenalkan metode mengajar dengan cara permainan yang dikenal sebagai transaksi permainan ekonomi. Metode ini baru terbukti ampuh untuk kelas IPS atau siswa SMU dengan jurusan ekonomi atau sosial.

Fransisca menjelaskan, dalam metode pengajaran itu para siswa dilibatkan secara aktif ketika belajar. Proses awalnya, siswa di kelas akan dibagi dalam beberapa kelompok dan setiap kelompok terdiri dari empat siswa, satu orang sebagai pencatat skor dan tiga orang yang bermain secara langsung.

Untuk itu, Fransisca membagi tiga ronde dalam setiap permainan, ronde pertama tentang pinjaman, ronde kedua tentang jual beli dan ronde ketiga soal hibah.

Dalam setiap ronde tersebut, akan dibuat sejumlah pertanyaan yang terkait erat dengan tema dari ronde tersebut, Misalnya ronde pertama tengang pinjaman, maka pertanyaan yang akan diajukan para siswa ketika bermain di ronde pertama itu seputar pinjaman dalam ilmu ekonomi.

Permainan itu dimulai ketika guru memberi skor kepada setiap regu sebanyak 20 skor, lalu guru sebagai fasilitator akan mengajukan beberapa pertanyaan kepada setiap regu. Regu yang bisa menjawab pertanyaan akan diberi skor 10 tapi jika jawabannya salah maka regu tersebut akan di dende sebanyak 5 skor.

Bagi regu yang ragu ragu untuk menjawab maka pertanyaan itu bisa dialihkan ke regu selanjutnya.

Jika diakhir permainan di ronde pertama ini terdapat regu yang memiliki skor minus maka secara otomatis akan gugur dan digantikan dengan regu atau kelompok lain yang belum bermain, selanjutnya regu yang gugur itu akan belajar kembali untuk mendapatkan pengetahuan dari soal soal yang sudah ditanyakan oleh fasilitator atau guru.

Bagi regu yang berhasil di ronde pertama, akan mengikuti ronde ke dua dengan topic jual beli. Masing masing regu selanjutnya akan diberi pertanyaan, jika regu yang bisa menjawab maka dia boleh membeli pertanyaan itu selanjutnya akan diberi skor 10-20 bagi yang berhasil menjawab. Jika jawabannya salah maka diberi denda 7.

Tetapi bagi regu yang tidak bisa menjawab, maka bisa menjual pertanyaan tersebut ke regu lainnya

Dengan metode mengajar seperti itu, kata Fransisca para siswa terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran karena masing masing siswa punya peran dan tanggung jawab sehingga secara otomatis harus mengetahui prinsif dasar dan ilmu yang berkenaan dengan permainan yang akan dibawakan.

Metode itu juga telah terbukti memberi dampak positif terhadap peningkatan pengetahuan siswa sehingga dalam ujian nasional para siswa yang mengikuti metode mengajar dengan cara permainan itu bisa lulus dengan hasil memuaskan.

“Para siswa yang mengikuti metode pengajaran melalui pola permainan ini hampir seluruhnya memperoleh hasil memuaskan dalam ujian nasional,” kata Fransisca.

Dengan metode pengajaran itu, Fransisca memperoleh penghargaan dan berhasil mendapat juara pertama dalam Lomba Kreativititas Ilmiah Guru (LKIG) XVII 2010 yang diselenggarakan LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) bekerja sama dengan Asuransi Bumiputera pada awal Agustus 2010.

"Sebelum saya kirimkan ke Jakarta memang telah sempat diuji coba di kelas VII B SMP Xaverius 1 Pendapat dari murid-murid yang mengikuti simulasi ketika itu, cara ini memang lebih mudah dipahami ketimbang metode biasa yang berupa ceramah di kelas," kata Sisca.

Dalam presentasi saat lomba, kata Fransisca, seorang penguji dari Universitas Indonesia mengaku tertarik untuk mengaplikasikan permainan itu di tingkat universitas. Pihak panitia pun, menyarankan agar skor hukuman dapat dikurangi agar semua kartu dari empat puluh lima yang ada dapat semua habis alias ditanyakan kepada peserta permainan.

Fransisca menyadari masih ada kekurangan dalam metode pengajaran itu, oleh karenanya dia sedang berupaya untuk menyempurnakan metode pengajaran tersebut aga bisa lebih efektif dan memberi dampak positif bagi para siswa.

Seorang siswa kelas VIIIF SMP Xaverius 1 Jambi, Irin (13) mengaku sangat terbantu dan lebih memahami ilmu yang diajarkan dengan metode permainan itu ketimbang dengan cara belajar yang biasa.

"Memang lebih mudah dipahami ketimbang kalau biasanya yang di kelas," kata Irin. (gus).

Tidak ada komentar: