Senin, 27 Juni 2011

Kapal Pengangkut TKI Ilegal Tenggelam

TANJUNG PINANG – Tim SAR dari Kota Tanjung Pinang Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) masih mencari tujuh TKI (Tenaga Kerja Indonesia) yang menjadi korban tenggelamnya kapal kayu bermesin tempel 20 PK di selat Singapura pada Rabu (1/6). Kapal tersebut mengangkut 24 TKI yang diduga illegal dari Malaysia, 17 TKI berhasil diselamatkan.



Kepala Kantor Basarnas Tanjungpinang, Bambang Subagyo mengatakan, sampai saat ini kapal dari Tim SAR dan TNI Angkatan Laut masih berjaga dan mencari sisa korban tenggelamnya kapal kayu yang mengangkut sekitar 24 TKI. Kapal tersebut mengangkut TKI yang diduga illegal dari Malaysia untuk dipulangkan ke Indonesia melalui Batam. Namun, sebelum sampai Batam kapal dihempas gelombang sehingga hancur di di perairan Selat Singapura pada titik koordinat 01' 16 53 N dan 104' 13 99 E.

“Arah angin dilaporkan menuju Batam, saat ini kapal Basarnas dan kapal patroli Angkatan Laut berjaga di daerah perbatasan di sekitar perairan Selat Singapura untuk mencari korban yang kemungkinan terbawa arus," katanya, Jumat (3/6).

Kabag Humas Polda Kepri AKBP Hartono mengatakan kapal pengangkut 24 TKI tersebut berlayar pada tengah malam meninggalkan kawasan Pantai Tanjung Ayam, tidak jauh dari Pasir Gudang, Johor Bahru, menuju Batam, Kepri. Sebanyak 24 TKI yang dibawa kapal tersebut diduga ilegal karena tidak memiliki dokumen keimigrasian.

"Diperkirakan kapal itu gelap, karena keberangkatannya tidak mengikuti jadwal resmi pelayaran dan tujuannya tidak menuju pelabuhan resmi," katanya.

Mustari (36) TKI perempuan asal Medan, Sumatra Utara, kepada Hartono mengatakan kapal kayu yang sebenarnya hanya memiliki daya angkut 15 penumpang tenggelam akibat dihempas gelombang dari feri yang melintas berpapasan.

Pada saat kapal yang ditumpangi para TKI mengarungi laut Johor, di jalur yang berdekatan saat bersamaan melintas kapal ferry. Ferry itu menimbulkan gelombang besar yang kemudian menghantam kapal kayu yang saat itu kelebihan beban hingga tenggelam. Perisitwa terjadi di perairan antara Malaysia, Singapura, dan Indonesia, sekitar setengah mil laut dari perairan Singapura.

Mustari selamat setelah berpegangan pada wadah kosong yang biasa digunakan untuk tempat bahan bakar kapal kayu nahas. Ia terus berpegangan sampai kemudian ditemukan tim penyelamat.

Singapore Coast Guard bersama Badan Penegakan Maritim Malaysia mengerahkan lebih dari 80 penyelam untuk menyelamatkan penumpang kapal. Operasi pencarian dan penyelamatan dilakukan mulai pukul 08.00 waktu Malaysia atau 07.00 WIB.

Semua korban selamat berusia antara 26 hingga 44 tahun. Mereka rata-rata telah bekerja di Malaysia selama dua dan tiga tahun. Untuk kembali ke Indonesia menggunakan kapal kayu ini, masing-masing TKI membayar biaya bervariasi, mulai dari 900 hingga 1.150 ringgit Malaysia. Waktu yang dibutuhkan kapal kayu ini untuk menyeberang dari Johor, Malaysia ke Batam, Kepri, dua jam pelayaran.

Korban selamat sebanyak 17 orang yakni; Sarnubi bin Abdul Rahman (39) asal Kertapati, Palembang, Oos bin Ombun (44) asal Tembilahan Riau, Husen bin Mohamad (16) asal Jambi, Rahmat bin Sahadi (31) asal Jember, Selamat bin Mustar (35) asal Kacangan, Langkat Sumatera Utara, Jafrel bin Jamaludin (27) asal Kerinci, Safe bin Jamaun (31) asal Buton, Sulteng, Rahman bin Karimin (24) asal Jember dan Sugihadi (28) asal Pati, Jawa Tengah.

Kemudian, Ilham bin Abdul Muin (34) asal Langkat, Elwadi (30) asal Korleko, Lombok Timur, Sakrudin bin Mahrup (37) asal Korleko, Lombok Timur, Fauzi bin Ahmad (37) asal Bangkalan, Tardi bin Hariza (24) asal Lombok Tengah, Saiful Bahri bin Abdullah (28) asal Aceh Utara, Zulkifli bin Jamaludin (29) asal Kerinci, Jambi
dan Wahab bin Zaini (32) asal Batang Hari, Jambi.

Sementara itu, korban yang berhasil selamat yakni Wahab bin Zaini (31) mengatakan trauma atas kejadian tersebut. Diceritakan, Sekitar 30 menit bertolak dari Sungai Ringgit, Malaysia kapal karam dihantam ombak. Hantaman ombak di perairan Tanjung Ayam, Johor Bahru Malaysia itu menyebabkan kapal kayu yang ditumpanginya pecah. Untuk menyelamatkan diri, Wahab memanfaatkan tas yang dibungkusnya menggunakan plastik sebagai alat untuk mengapung.

Selama enam jam terapung dan terbawa arus laut, pertolongan pun akhirnya datang. Wahab bersama penumpang kapal yang masih selamat berhasil dievakuasi Singapore Coast Guard bersama Badan Penegakan Maritim Malaysia dengan kapal MT Hua Tuo. (gus).

Tidak ada komentar: