Rabu, 02 Desember 2009

Gagal Bayar Utang Perusahaan Tekstil Divestasi Aset

BATAM – Perusahaan tekstil, PT Eratex Djaja Tbk berharap negosiasi dengan HSBC dan DBS mengenai restrukturisasi utangnya sekitar 180 juta dollar AS bisa rampung Desember ini agar perseroan bisa lebih ekspansif tahun depan. Untuk itu, perseroan akan menjual (divestasi) sejumlah mesin produksinya guna menyelesaikan utang yang telah jatuh tempo 2008 lalu tersebut.






Sekretaris Perusahaan Eratex, Juliarti Pudji Kurniawati mengatakan, perseroan saat ini masih pada proses negosiasi dengan manajemen HSBC dan DBS mengenai rencana restrukturisasi utangnya yang telah jatuh tempo 2008 lalu. Negosiasi dilakukan untuk mendapatkan dana tambahan dan perpanjangan waktu atas nilai yang terhutang.

“Negosiasi restrukturisasi utang dengan HSBC dan DBS diharapkan selesai akhir tahun ini, sehingga tahun depan kami bisa melangkah lebih baik,” katanya kepada Koran Jakarta, Selasa (2/12).

Perseroan sendiri, kata dia telah gagal membayar utangnya (default) pada HSBC dan DBS tepat waktu, disebabkan anjloknya pendapatan akibat penurunan order atau pesanan dari pelanggan utama di Amerika Serikat, Eropa dan Jepang.

Anjloknya pendapatan itu juga dipengaruhi oleh tidak berproduksinya salah satu unit bisnisnya yakni produksi tekstil sejak 2008 karena tidak adanya pesananan, sehingga sejak 2008 sampai saat ini perseroan hanya memproduksi garmen.

Akibatnya, kata Juliarti, perseroan mengalami penurunan pendapatan cukup signifikan sehingga gagal membayar utang tersebut tepat waktu.

Total utang yang masih harus dibayarkan ke HSBC dan DBS ditaksir sekitar 180 miliar rupiah. Dari laporan keuangan kuartal tiga 2009 disebutkan, total utang ke HSBC sekitar 12,071 dollar AS sedangkan utang ke DBS sekitar 6.000 dollar AS.


Divestasi Aset

Untuk melunasi utangnya tersebut, perseroan juga telah menjual atau divestasi sejumlah mesin produksi tekstil. Menurut Juliarti, divestasi itu dilakukan karena sudah lama tidak berproduksi (menganggur) disebabkan tidak adanya pesanan. Sehingga dalam rangka efisiensi, mesin di jual, perseroan juga diketahui telah merumahkan sekitar 400 karyawannya, dari total seluruh karyawan saat ini sekitar 4000 karyawan, dalam rangka efisiensi.

Terkait dengan divestasi mesin tersebut, perseroan belum berhasil merealisasikannya karena belum ada persetujuan dari HSBC dan DBS. Persetujuan dari dua Bank itu dibutuhkan, karena asset berupa mesin produksi yang di jual tersebut merupakan asset yang dijaminkan dalam utang perusahaan ke bank itu.

Juliarti menjelaskan, sejak krisis keuangan global terjadi pada awal 2008, pihaknya mengalami penurunan order cukup signifikan dari Amerika Serikat dan Eropa serta Jepang sebagai pembeli utama. Itu disebabkan daya beli masyarakat di negara tersebut anjlok.

Akibatnya, perseroan terpaksa menghentikan produksi tekstil karena tidak adanya pesanan pada pertengahan 2008, dan praktis sejak itu pendapatan perseroan hanya bergantung pada bisnis garmen.

Produksi garmen yang dilakukan, kata dia ternyata tidak dapat memenuhi target pendapatan karena nilainya terus mengalami penurunan. Hingga September ini saja, perseroan hanya mengantongi pendapatan 215,6 miliar rupiah, turun 21,9 persen dibanding periode sama 2008 yang 262,8 miliar rupiah. Akibatnya, perseroan mengalami rugi usaha 26 miliar rupiah dan rugi bersih 13,8 miliar rupiah pada kuartal tiga ini. Itu dipengaruhi oleh meningkatnya beban usaha mencapai 37,4 miliar rupiah, lebih tinggi dibanding periode sama 2008 yang hanya 28,4 miliar rupiah.


2010 Optimistis

Meskipun kinerja tahun ini mengalami tekanan, kata Juliarti pihaknya optimisitis kinerja tahun depan bisa lebih baik. Pasalnya, perseroan sudah menerima order dari Amerika dan Eropa untuk pengerjaan garmen hingga Februari 2010, sayangnya dia tidak bisa menyebut nilai ordernya.

“Kami sudah mendapat order atau kontrak dari Amerika dan Eropa untuk pengerjaan produksi garmen hingga Februari 2010, sehingga kami optimistis kinerja tahun depan bisa lebih baik,” katanya.

Perseroan juga, kata dia sudah mempersiapkan rencana strategis tahun depan antara lain melakukan diversifikasi market atau pasar khususnya ke kawasan yang tidak terlalu parah terkena dampak krisis keuangan global seperti ke Timur Tengah dan Asia , serta mengurangi ketergantungan pasar di Amerika Serikat dan Eropa.

Terkait dengan rencana investasi, Juliarti belum bisa menyebutkan, karena pihaknya masih fokus pada mesin produksi yang ada, dan belum berencana untuk menambah mesin baru.

Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia , Benny Soetrisno mengatakan, industri tekstil nasional saat ini mengalami banyak kendala untuk berkembang, antara lain, umur mesin produksi yang sudah tua, kekurangan modal untuk proses restrukturisasi mesin dan maraknya produk tekstil impor yang dijual dengan harga murah.

Selain itu industri tekstil nasional juga menghadapi persaingan yang cukup ketat dengan perusahaan tekstil dari negara lain dari segi kualitas. Oleh karena itu, kata dia, pemerintah perlu berperan aktif untuk memberdayakan industri tekstil nasional, tidak hanya memberi kredit untuk restrukturisasi, tapi pengaturan perdagangan produk tekstil impor juga perlu dilakukan. (gus).

Tidak ada komentar: