Minggu, 22 Agustus 2010

PT Kertas Basuki Rachmat Indonesia Tbk Rights Issue Oktober

JAKARTA – Perusahaan kertas, PT Kertas Basuki Rachmat Indonesia Tbk (KBRI) akan Rights Issue pada Oktober ini dengan target dana 38,5 juta dollar AS yang akan digunakan untuk menyelesaikan utang-utangnya, sehingga perseroan bisa mendapatkan utang baru sejumlah 50 juta dollar AS untuk membeli perangkat lunak mesin produksi kedua (PM2) dan pemenuhan belanja modal.



Sekretaris Perusahaan Kertas Basuki, Tiur Simamora mengatakan perseroan akan merealisasikan rencana penawaran saham terbatas atau Rights Issue pada Oktober ini, mundur dari jadwal sebelumnya yang Agustus atau September karena belum diselesaikannya urusan administrasi.

“Kami optimistis bisa mendapatkan dana 38,5 juta dollar AS dari rights issue pada Oktober ini karena sudah ada pembeli siaga dari Henan Putihrai, dengan demikian kami bisa menyelesaikan restrukturisasi utang,” katanya, Kamis (19/8).

Dengan direalisasikannya Rights Issue pada Oktober tersebut, perseroan diharapkan bisa mendapatkan dana segar sejumlah 38,5 juta dollar AS yang akan digunakan seluruhnya untuk restrukturisasi utang-utangnya. Dengan demikian neraca keuangan bisa bankable sehingga perseroan bisa mencari utang baru.

Perseroan berencana mencari utang baru sejumlah 50 juta dollar AS yang akan digunakan untuk membeli perangkat lunak untuk mesin produksi kedua atau PM2 (paper machine 2) sejumlah 40 juta dollar AS dan untuk modal kerja sejumlah 10 juta dollar AS. PM 2 sendiri sudah dibeli sejak 2008 namun belum bisa dioperasikan karena perangkat lunaknya belum dibeli.

Jika rencana tersebut berjalan, kata Tiur maka perseroan bisa memaksimalkan produksi pada semester kedua tahun depan hingga mencapai 11.000 ton, sehingga pendapatan bisa tumbuh lima kali lipat yakni 60 miliar rupiah dari 11 miliar rupiah pada 2009.

Terkait dengan hasil RUPSLB (Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa) yang diadakan kemarin (19/8) Tiru mengatakan, mayoritas pemegang saham setuju dengan agenda rapat untuk menggabungkan nilai nominal saham (reverse stock).

Saat ini, nilai nominal saham seri A Kertas Basuki sekitar 200 rupiah, sedangkan saham seri B 100 rupiah. Dengan demikian, reverse stock 21 akan mengubah nilai nominal saham seri A dari 200 rupiah menjadi 400 rupiah dan seri B menjadi 200 rupiah dari saat ini 100 rupiah.

Reverse Stock tersebut, kata Tiur perlu dilakukan untuk memenuhi persyaratan dalam rights issue. Pasalnya, harga saham perseroan di lantai bursa hanya sebesar 50 rupiah dan sesuai ketentuan, penerbitan saham baru tidak bisa dilakukan dengan harga di bawah nilai nominal. Dengan penggabungan nilai nominal saham tersebut diharapkan harga saham perseroan bisa naik.

Terkait dengan kinerja semester satu ini, perseroan membukukan rugi usaha 4,02 miliar rupiah, berkurang dari posisi sebelumnya yang 16,47 miliar rupiah pada akhir Juni 2009. Pendapatan usaha sebesar 39,73 miliar rupiah pada semester satu ini, lebih tinggi dari periode sama tahun lalu yang 35,41 miliar rupiah.

Namun, KBRI membukukan laba bersih 59,15 miliar pada akhir Juni 2010, melonjak dari posisi yang sama tahun lalu yang 7,65 miliar rupiah. Peningkatan laba bersih itu ditopang oleh pendapatan lain-lain 71,58 miliar rupiah yang mayoritas berasal dari laba penjualan anak usaha sebesar 49,29 miliar rupiah dan laba selisih kurs 18,92 miliar rupiah.

Perusahaan kertas lainnya juga mengalami peningkatan laba bersih. PT Indah Kiat Pulp Papar Tbk membukukan laba bersih 871,79 miliar rupiah naik 90.544 persen disbanding periode sama tahun lalu yang 901,61 juta rupiah.

Menurut Direktur Indah Kiat, Yan Partawijaya peningkatan laba tersebut dipicu peningkatan harga kertas dan peningkatan volume produksi. Perseroan menargetkan kapasitas produksinya naik hingga 4,8 juta metrik ton per tahun atau naik 4,35 persen pada tahun ini disbanding 4,6 juta ton per tahun pada tahun sebelumnya.

Ketua Presidium Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI), Muhammad Mansur kepada Koran Jakarta mengatakan prospek industri kertas tahun ini diprediksi lebih baik dibanding tahun 2009, karena harga kertas bakal melonjak disebabkan pasokan domestic dan global menurun sedangkan permintaan tinggi akibat mulai berjalannya kegiatan industri setelah sempat melemah akibat dampak krisis keuangan global.

Menurutnya harga kertas tahun 2010 akan naik sekitar 15-20 dollar AS per ton setiap bulannya, baik itu pulp serat pendek maupun serat panjang atau mencapai 750-800 dollar AS per ton.

Konsumsi paling tinggi kata dia lebih banyak di pasar dalam negeri dan Asia, sedangkan pasar Eropa dan Amerika masih belum terlalu tinggi permintaanya karena dampak resesi global belum pulih di kawasan tersebut. (gus).

Tidak ada komentar: