Loading...

Selasa, 01 Juni 2010

Kebijakan Pemerintah Soal Biodiesel Tingkatkan Kinerja Perusahaan Kimia

JAKARTA – Perusahaan perdagangan dan distribusi produk kimia PT Eterindo Wahanatama Tbk memproduksi biodiesel kembali sejak Mei ini, menyusul langkah pemerintah yang memberi subsidi dan mematok harga berdasarkan harga internasional. Perseroan optimistis kontribusi penjualan biodiesel cukup signifikan terhadap penjualan tahun ini sehingga pertumbuhannya bisa diatas 10 persen dibanding 2009.



Direktur Utama Eterindo Wahanatama Immanuel Sutarto mengatakan, sejak 2009 lalu pihaknya sudah menghentikan produksi Biodiesel untuk dijual ke Pertamina, produksi yang ada hanya digunakan untuk kebutuhan sendiri dengan jumlah terbatas, padahal kapasitas produksi mesin yang ada mencapai 240.000 metrik ton per tahun.

Dihentikannya produksi Biodiesel sejak 2009 disebabkan rendahnya harga beli yang dilakukan Pertamina, bahkan harga yang ditawarkan dibawah harga keekonomian sehingga tidak menguntungkan.

Namun, sejak kuartal satu 2010 ini, Pemerintah telah mengambil langkah positif dengan memberi subsidi pada Biodisel sama seperti subsidi untuk premium dan solar. Selain itu, harga beli dari Pertamina kepada produsen Biodiesel di dalam negeri juga tidak lagi dipatok tapi disesuaikan dengan harga di pasaran internasional.

Langkah positif pemerintah itu, kata Immanuel telah mendorong perusahaan biodiesel di tanah air untuk kembali memproduksi Biodiesel dan saat ini produksi biodiesel dari produsen dalam negeri yang dipasok ke Pertamina sekitar 30.000 kilo liter per bulan. Sementara itu, kebutuhan Pertamina sekitar 800.000 kilo liter pada tahun ini.

Perseroan, katanya masih memproduksi dalam jumlah yang terbatas sejak Mei ini yakni hanya 2.000 kilo liter perbulan dan jumlah itu akan terus ditingkatkan hingga lebih dari 5.000 kilo liter per bulan seiring dengan membaiknya harga produk tersebut di pasaran internasional.

Dengan diproduksinya kembali Biodiesel serta harga jual yang menarik atau berdasarkan harga internasional, kata Immanuel, pihaknya cukup yakin hasil dari penjualan produk biodiesel itu akan menopang kinerja tahun ini. Pasalnya, sampai akhir tahun 2010 ini, perseoan menargetkan jumlah produksi Biodieselnya mencapai 30.000 ton untuk di suplai ke Pertamina.

Oleh karena itu, kontribusi dari penjualan Biodiesel terhadap pendapatan tahun ini diperkirakan cukup besar, sehingga perseroan berani menargetkan pertumbuhan pendapatan tahun ini lebih dari 10 persen dibanding 2009.

Pada kuartal satu ini saja, perseroan membukukan penjualan 236,2 miliar rupiah,naik .. persen dibanding periode sama 2009 yang 649,1 miliar rupiah. Sedangkan laba bersih melonjak hingga 110,52 miliar rupiah padahal diperiode sama tahun 2009 perseroan mengalami rugi bersih 59,1 miliar rupiah.

Sekjen Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Paulus Paulus Tjakrawan mengatakan, potensi pengembangan industri Biodiesel di Indonesia cukup prospektif dengan kapasitas produksi sekitar 3,2 juta kilo liter per bulan. Namun produksinya masih relatif kecil ditaksir 100 ribu kilo liter perbulan karena belum ada kebijakan dari pemerintah yang berpihak terhadap industri tersebut.

Namun, seiring dengan diberikanya subsidi oleh pemerintah dan penentuan harga jual yang berdasarkan harga internasional diprediksi bisa memacu peningkatan kinerja industri biodiesel di tanah air. (gus).

Tidak ada komentar: