Jumat, 19 Februari 2010

Saat Nelayan Tak Mampu Melaut Lagi



Kehidupan biota laut di perairan Provinsi Kepulauan Riau kian terancam disebabkan pencemaran limbah industri, akibatnya banyak nelayan terpaksa menggantung jaringnya dan beralih profesi menjadi pencari limbah besi di dasar laut agar priuk nasi tetap terisi.




Sudah hampir lima bulan sejak September 2009, Ja’far warga Tanjung Uncang yang berprofesi sebagai nelayan tak melaut lagi. Itu disebabkan hasil tangkapannya yang kian hari kian seret, bahkan pernah satu waktu Ja’far hanya berhasil membawa pulang beberapa ekor ikan saja akibatnya dia mengalami kerugian karena hasil tangkapannya ketika dijual tidak bisa menutupi biaya sewa perahu dan membeli solar.

Ja’far bercerita ketika dia mengalami masa masa bahagia saat pertama kali melaut sekitar lima tahun lalu, hasil tangkapannya sangat banyak. Dalam satu hari dia bisa menangkap lebih dari 50 kilogram ikan termasuk udang dan kepiting, sehingga penerimaan bersihnya bisa mencapai 200 ribu sampai 400 ribu rupiah perhari.

Alhasil dengan pendapatan itu, dia bisa melamar pacarnya dan bisa membeli sepeda motor serta membeli perabotan rumah tangganya, dan kehidupannya pun berjalan baik.

Namun, ketika industri mulai tumbuh dan banyak bermunculan perusahaan galangan kapal di bibir pantai sekitar tempat tinggalnya, kehidupan ekonominya pun mulai terpuruk. Satu persatu benda berharga yang ada di rumahnya terpaksa dijual untuk menyokong kehidupannya bersama istri dan dua anaknya.

Menurut Ja’far itu disebabkan hasil tangkapannya kian hari kian seret karena ikan sudah tidak banyak seperti dulu. Kondisi itu dipicu oleh perubahan ekosistem di perairan tersebut akibat limbah yang dihasilkan puluhan perusahaan yang ada di sekitar Tanjung Uncang.

Sebut saja salah satunya PT ASL Shipyard Batam yang aktivitas produksinya dikeluhkan nelayan di Tanjung Uncang. Perusahaan itu telah membuang limbah industrinya secara bebas ke laut, seperti limbah cat, limbah potongan besi hasil pembuatan kapal, limbah besih hasil pengamplasan dan lainnya.

Kondisi itu, kata Ja’far berlangsung secara terus menerus selama beberapa tahun mengakibatkan ekosistem laut di sekitar perusahaan jadi terganggu, dampaknya ikan tak mampu lagi hidup di perairan itu sehingga nelayan kehilangan mata pencaharian.

Hal yang sama juga dikeluhkan warga lainnya, Saharudin Nelayan Pulau Lingka mengatakan, pihaknya telah menemukan limbah sludge oil di kedalaman laut sekitar 12 meter. Limbah itulah kata dia yang menyebabkan biota laut hancur sehingga ikan sulit ditemukan lagi dan dia bersama nelayan lainnya terpaksa menggantung jaring dan mencari pekerjaan lain.

Untuk menyambung hidup, kata Saharudin dia dan teman teman nelayan lainnya terpaksa beralih profesi mencari limbah besi hasil potongan pembuatan kapal.

Kondisi yang sangat ironis, karena hasil potongan besi itu merupakan limbah yang dihasilkan perusahaan galangan kapal yang ada di sekitar Tanjung Uncang. Parahnya lagi, untuk mendapatkan limbah besi itu, warga juga harus kucing kucingan dengan petugas keamanan perusahaan yang menjaganya.

Menurut Saharudin, untuk mendapatkan limbah besi yang berserak di dasar laut itu, dia dan rekannya harus menyelam ke dasar laut di kedalaman hingga 15 meter, untuk itu peralatan menyelam sederhana yang terbuat dari selang disiapkan untuk menyelam selama beberapa menit dan itu dilakukan bergantian bersama rekannya.

Kondisi itu juga dilakukan warga lainnya yang terpaksa berhenti mencari ikan dan beralih profesi menjadi pencari besi di laut.

Potongan besi yang diperoleh dari dasar laut, selanjutnya dikumpulknan dan dijual oleh pengumpul yang sudah menunggu di darat, harga per kilo gramnya sekitar 4.000 – 8.000 rupiah.

Meski pendapatan dari mencari besi tak setinggi bila dibanding menangkap ikan, Saharudin tidak bisa mengeluh karena bila tidak dilakukannya maka anak dan istrinya tidak bisa makan, sementara untuk mencari ikan lagi tidak memungkinkan karena ikan sudah semakin sulit di dapat.

Pasalnya, daerah tangkapan Saharudin dan nelayan lainnya berada dekat dengan keberadaan puluhan perusahaan galangan kapal di Tanjung Uncang yang kondisinya saat ini sudah parah tercemar oleh limbah perusahaan tersebut.

Menurutnya, nelayan di Kepri tidak bisa mencari ikan lebih jauh ke tengah laut karena perahu yang dimiliki sangat tradisional dengan kapasitas bahan baker yang sangat terbatas dan bentuk fisik perahunya sendiri memang tidak diciptakan untuk dibawa ketengah laut.

Selain di kawasan Tanjung Uncang Kota Batam, nelayan lainnya di Provinsi Kepri juga harus beralih profesi untuk menyambung hidup karena menurunnya hasil tangkapan.

Di Pulau Bintan dan Tanjung Batu banyak nelayan yang beralih profesi menjadi tukang bangunan dan tukang ojek, karena laut di sekitar daerah mereka sudah tercemar.

Nasrul salah seorang warga Bintan mengatakan, kalau dulu masa panceklik mencari ikan hanya dipengaruhi oleh musim dan tinggi gelombang, namun saat ini masa panceklik tidak kenal musim karena musim apapun hasil tangkapan tetap saja seret.

Kuat dugaan, kata Nasrul, laut di wilayah Bintan sudah semakin tercemar hingga menyebabkan ikan terus berkurang.

Sementara itu, di Kawawan Pantai Memban Nongsa Batam pencemaran laut yang terjadi sejak satu bulan terakhir sudah sangat mengkuatirkan. Puluhan ton limbah minyak berbentuk sludge oil terhampar jelas di bibir pantai Nongsa sepanjang lebih dari I km dan kondisi itu terus bergerak dan semakin menambah kawasan tercemar.

“Sudah lebih dari dua bulan ini kami tidak melaut untuk mencari ikan, karena pantai tempat biasa kami mencari ikan tercemar oleh limbah seperti minyak, dan hal itu sudah kami laporkan ke Pemerintah tapi belum ada tindakan apapun,” kata salah seorang nelayan, Mamat kepada Koran Jakarta, sabtu (16/1).

Akibatnya, kata dia nelayan kehilangan pemasukan sekitar 50 ribu sampai 100 ribu perhari yang biasa diperolehnya dari menangkap ikan di sekitar pantai Menban Nongsa tersebut. Selain itu, warga di sekitar pantai juga sudah banyak yang mengalami penyakit gatal gatal dan menderita penyakit pernapasan karena limbah itu menghasilkan bau busuk yang menyengat.

Oleh karena itu, kata Mamat, warga setempat melakukan pembersihan secara sukarela namun belum efektif karena limbahnya terlalu banyak.

Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah Kota Batam, Dendy Purnama mengatakan, pihaknya telah melakukan penelitian terhadap limbah di Pantai tersebut dan hasilnya limbah minyak yang mencemari berjenis Sludge oil yang jumlahnya belum bisa dipastikan, tapi diperkirakan lebih dari delapan ton karena sudah mencemari lebih dari satu Kilometer pantai Menban.

Bapedalda sendiri, kata dia belum bisa memastikan dampak negatif dari limbah itu terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar, oleh sebab itu pihaknya telah mengambil sample untuk diteliti di Cilengsie Bogor .

Sludge Oil sendiri merupakan limbah dari proses penyulingan minyak mentah dalam industri perminyakan yang mengandung zat berbahaya seperti volatile hydrokarbon, CO, Nox, dan Sox yang sangat berbahaya bagi lingkungan dan berbahaya bagi kesehatan manusia.

Terhadap pelaku pembuangan limbah, kata Dendy pihaknya masih belum mengetahui siapa yang harus bertanggung jawab, karena belum ditemukan pelakunya.

Anggota Komisi III DPRD Kota Batam Jefri Simanjuntak mengatakan, pemerintah harus menangkap pelaku pembuangan limbah itu, karena Batam sudah sering menjadi tempat pembuangan limbah.

"Limbah ini saya pikir dibuang sengaja oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Bahkan jika dilihat dari luas bibir pantai yang telah tercemar, diperkirakan mencapai ratusan ton," kata dia.

Menurut Ja’far sudah banyak pejabat dan anggota Dewan yang berteriak dan prihatin terhadap pencemaran yang terjadi di laut Kepri, namun sampai saat ini pencemaran terus terjadi dan bahkan semakin parah.

Ja’far kuatir, beberapa tahun lagi ketika anak nya beranjak dewasa, makanan laut, seperti ikan, kepiting, udang dan lainnya semakin sulit di peroleh bahkan bisa jadi harus membeli dari Provinsi lain, padahal Kepri yang 96 persen luas daerahnya laut, tentu saja potensi lautnya sangatlah besar. Namun, potensi yang diharapkan bisa mengangkat perekonomian masyarakat itu tidak akan berarti apa apa bila tidak dikelola secara baik, terlebih bila ekosistemnya diganggu dan dicemari, yang terjadi justru akan menyengsarakan warga. (gus).

Tidak ada komentar: