Senin, 08 Februari 2010

IHSG menggeliat ditengah tekanan arus regional

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kemarin meluncur dibawah level 2.500 dengan derasnya tekanan arus tekanan jual di bursa-bursa regional yang memberikan sentimen negatif cukup kuat terhadap Bursa Efek Indonesia (BEI). Pada perdagangan saham kemarin, IHSG akhirnya ditutup turun 43,4 poin atau 1,7% di level 2.475,57 setelah sempat meluncur ke titik terendahnya di level 2.431,8. Perdagangan saham kemarin terlihat masih diwarnai tekanan jual, yang terlihat dengan total nilai transaksi yang mencapai Rp4,5tn, naik tipis dibanding penutupan pekan lalu.




Tadi malam waktu Jakarta, bursa Wall Street kembali tergerus cukup dalam dan bahkan anjlok ke level dibawah 10.000. dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran investor terhadap kondisi finansial terutama berkaitan dengan masalah utang Yunani, Portugal dan Spanyol yang dikhawatirkan akan berimbas ke Negara-negara Eropa lainnya. Indeks Dow Jones tadi malam ditutup -103,84 poin atau 1,04% ke level 9.908,39.

Pagi ini, bursa-bursa Asia Pasifik sebagian besar dibuka melemah terimbas oleh pelemahan di New York. Kecuali Seoul dan Taiwan yang dibuka menguat tipis dengan kisaran 0,1% — 0,4%, bursa-bursa regional lainnya dibuka melemah.

Ditengah derasnya tekanan jual di regional, kami perkirakan pagi ini IHSG akan mencoba bergerak naik setelah kemarin turun tajam. Namun, ketidak pastian situasi politik dalam negeri akan turut menentukan arah indeks kedepan. Hadirnya pemain baru Pembangunan Perumahan (PTPP) pagi ini yang ditawarkan pada harga Rp560 per lembar diharapkan bisa memberikan arah lain dipasar. IHSG pagi ini kami perkirakan akan mencoba menggeliat naik dengan kisaran 2.430 — 2.519.

Saat ini, Panitia Khusus (Pansus) Bank Century telah memasuki masa-masa akhir penyelidikannya yang akan diumumkan awal bulan Maret nanti. Semua Fraksi memberikan pandangannya masing-masing terhadap kasus Bank Century ini. Dalam proses ini, ditengarai adanya tanda-tanda perpecahan koalisi pemerintahan, yang tentunya akan berpengaruh terhadap iklim politik di Indonesia nantinya. Hal ini tentunya memperburuk situasi pasar saat ini yang tengah dilanda badai dari regional. (gus)

Tidak ada komentar: