Minggu, 07 Februari 2010

Asahimas Flat Glass Tbk Penetrasi Pasar Cina

JAKARTA – Perusahaan kaca, PT Asahimas Flat Glass Tbk berencana meningkatkan pasar ekspor untuk produk kaca yang menggunakan teknologi Chemical Vapour Deposition (CVD) ke Cina paska dibukanya perjanjian perdagangan bebas Asean-Cina (Asean-Cina Free Trade Agreement) sejak 1 April 2010, untuk meraih pertumbuhan penjualan 10-15 persen pada tahun ini atau senilai 2,1 triliun sampai 2,2 triliun rupiah.




Sekretaris Perusahaan Asahimas Hendrik Adrianto mengatakan, dibukanya status perdagangan bebas antara Asean dan Cina diperkirakan akan makin memperbesar pasar perusahaan di luar negeri, khususnya di Cina yang sangat potensial. Oleh sebab itu, perseroan sedang mengaji untuk memperbesar penjualanya ke Cina selain Jepang, Australian dan Oceania yang selama ini menjadi pasar utama.

“Asean-Cina Free Trade Agreement membuka peluang bagi kami untuk lebih agresif masuk ke pasar ekspor khususnya Cina yang sangat potensial, sehingga penjualan ke negara itu akan kami tingkatkan, harapannya bisa berkontribusi terhadap penjualan tahun ini yang ditargetkan tumbuh 10-15 persen,” katanya kepada Koran Jakarta, Minggu (7/2).

Tidak menutup kemungkinan, kata dia dengan dibukanya status perdagangan bebas itu, posisi pasar ekspor Jepang dan Australia akan di geser oleh posisi Cina karena permintaan di negara itu cukup tinggi khususnya untuk produk kaca berkualitas tinggi, sehingga perseroan akan fokus penjualannya untuk produk kaca dengan teknologi tinggi yakni teknologi Chemical Vapour Deposition (CVD) yang belum banyak di produksi oleh perusahaan kaca global.

Untuk memperbesar pasar di Cina, perseroan berencana menambah beberapa agen di Singapura sebagai perusahaan yang mengatur distribusi untuk pasar ekspor, saat ini jumlahnya baru dua perusahaan. Sementara itu, agen penjualan di Cina juga rencananya akan di tambah.

Terkait dengan rencana memperbesar pasar Cina tersebut, Hendrik belum bisa memastikan persentase peningkatan penjualannya, karena masih harus diperhitungkan dengan ongkos transportasi dan kompetisi dengan produk lokal. Selain itu, faktor permintaan domestik juga akan mempengaruhi karena bila permintaan domestik menguat maka penjualan ekspor tidak akan agresif namun bila permintaan domestik lemah maka ekspor akan ditingkatkan khususnya ke Cina. Saat ini, volume penjualan ekspor dan domestic hampir sama yakni 50 persen banding 50 persen.

Menurut Hendrik, bila pasar ekpor di tingkatkan dengan mengenjot pasar Cina, maka penjualannya tahun ini diprediksi tumbuh 10-15 persen senilai 2,1 triliun sampai 2,2 triliun rupiah dibanding perkiraan realisasi 2009 yang 1,8 triliun sampai 1,9 tirliun rupiah.

Hendrik cukup optimistis dengan proyeksi penjualan itu, karena selain adanya potensi peningkatan pasar ekspor, penjualan domestik juga diprediksi akan menguat, karena karena ekonomi mulai bangkit kembali paska terkena dampak krisis keuangan global, yang ditandai dengan maraknya pertumbuhan bisnis properti dan otomotif yang banyak membutuhkan pasokan kaca.

Untuk menunjang pertumbuhan kinerja itu, perseroan mengalokasikan belanja modal sekitar 5,0 juta-6,0 juta dollar AS setara dengan 47,5 miliar sampai 57,0 miliar rupiah dengan asumsi satu dollar AS sama dengan 9.500 rupiah yang bersumber dari kas internal. Belanja modal itu, sebagian besar akan digunakan untuk membiayai kegiatan rutin dan maintenance, karena tahun ini diperkirakan tidak ada rencana investasi.

Menurut Hendrik, investasi telah dilakukan pada 2009 lalu dengan berbiaya 39,1 juta dollar AS untuk meningkatkan kualitas produk dengan mengadopsi teknologi Chemical Vapour Deposition (CVD) di tungku A-2 yang ada di pabrik kaca lembaran di Sidoarjo. Sedangkan adopsi teknolgi di tungku Jawa Timur biaya investasinya 24,5 juta dollar AS.

Direktur Pengamanan Perdagangan Ditjen Kerjasama Perdagangan Internasional Depdag Ernawati sebelumnya mengatakan, kualitas produk kaca nasional cukup kompetitif dibanding dengan produk luar negeri karena banyak perusahaan kaca nasional yang sudah mengadopsi teknologi tinggi berupa CVD.

Di kawasan regional seperti di Vietnam, produk kaca Indonesia hampir mendominasi konsumsi kaca di negara itu, sehingga Vietnam baru baru ini telah mengambil tindakan safeguard terhadap produk kaca lembaran (float glass) dari Indonesia.

Ekspor kaca lembaran Indonesia ke Vietnam melebihi ekspor dari Malaysia dan Thailand, data pada April 2009 nilai ekspornya mencapai 946 ton atau setara dengan 499 ribu dollar AS. (gus).

Tidak ada komentar: