Loading...

Selasa, 05 Juli 2011

Investor Malaysia Bangun Pabrik Coklat di Batam



BATAM – Investor Malaysia, Guang Chong Bhd melalui perusahaan terafiliasinya PT Asia Cocoa Indonesia (ACI) meresmikan pengoperasian pabrik pengolahan coklat di Batam Provinsi Kepulauan Riau, Senin (4/7). Pabrik dengan investasi sekitar 17 juta dollar AS setara 153 miliar rupiah dengan kurs 9.000 rupiah per dollar AS itu memproduksi aneka produk coklat seperti cocoa powder (bubuk cokelat), cocoa cake (kue coklat) dengan kapasitas produksi 65.000 ton per tahun.



Operational Manager Asia Cocoa Indonesia, Yau Tee Wan menjelaskan, pabrik yang berlokasi di Kawasan Industri Tunas Batam Centre seluas 8 hektare itu sudah dibangun sejak beberapa bulan lalu dengan investasi sekitar 17 juta dollar AS. Pembangunan pabrik sudah rampung Juni 2011 sehingga bisa diresmikan Senin (4/7) kemarin.

“Pabrik ini mampu memproduksi kakao dalam berbagai bentuk seperti cocoa powder (bubuk cokelat), cocoa cake (kue coklat) dan lain sebagainya yang diberi merek Favorich dengan kapasitas produksi sekitar 65.000 ton setiap tahunnya,” kata Yau Tee Wan, Selasa (5/7).

Pabrik dilengkapi dengan Termo Oksidator produksi Jerman seharga 1,5 juta Euro untuk meminimalisir polusi agar proses produksi yang dihasilkan lebih ramah terhadap lingkungan. Manajemen juga nantinya mempekerjakan ribuan karyawasan lokal dan sebagai tahap awal sudah memperkerjakan 150 orang ditambah 20 tenaga kerja ahli dari Malaysia.

Untuk bahan baku produksi didatangkan seluruhnya dari berbagai daerah di Indonesia seperti Medan, Makasar, Lampung dan Surabaya yang selanjutnya akan diproses di Batam. Pabrik tersebut mampu mengolah kakao 2 ton per hari untuk dijadikan bahan produksi makanan. Hasil produksi sebagian besar akan di ekspor ke Timur Tengah, Eropa, Amerika dan Negara di Asia timur.

Pertumbuhan Investasi

Walikota Batam, Ahmad Dahlan yang hadir dalam peresmian pabrik mengatakan, pembangunan pabrik pengolahan coklat di Batam oleh investor Malaysia menandakan bahwa Batam masih sangat menarik bagi investor asing untuk menanamkan modalnya. Itu disebabkan beberapa keunggulan yang dimiliki Batam seperti secara geografis dekat dengan Singapura, serta status Batam sebagai Free Trade Zone.

Pada kuartal satu 2011 saja terdapat 21 aplikasi proyek PMA yang telah disetujui di Batam dengan total nilai investasi sejumlah 21.150.000 dollar AS dan total perluasan PMA sebesar 29.300.000.- dollar AS.

Negara-negara yang telah menanamkan investasinya di Batam adalah Singapura, Malaysia, Taiwan, Austria, Australia, Korea Selatan, British Virgin Island, Mauritius dan RR Cina. Ada pun bidang usahanya meliputi: Industri pembuatan dan jasa angkutan serta perbaikan kapal; Industri paku, mur, kawat baja dan baut; Industri barang dari plastik; Perdagangan besar ekspor dan impor; Industri pipa dan pengolahan logam; Real estate; Jasa konsultasi; Pengolahan pembenihan dan pembesaran ikan laut; Jasa industri pembuatan barang dari logam; Jasa penunjang kegiatan shipyard; Angkutan bermotor untuk barang umum; Jasa perbaikan dan perawatan alat-alat berat; Jasa pembangunan dan pemasangan instalasi tenaga listrik, dan lain-lain.

Sementara itu, Menteri Perindustrian M. S. Hidayat pernah mengatakan, pemerintah mendukung pembangunan industri hilir seperti pengolahan coklat. Untuk itu telah diresmikan sekitar 14 pabrik pengolahan kakao dibeberapa lokasi di Indonesia, dalam upaya meningkatkan kapasitas produksi kakao olahan dan cokelat nasional dari 531.675 ton per tahun menjadi 689.750 ton per tahun.

Pabrik yang diresmikan adalah penambahan kapasitas oleh PT General Food Industries, PT Bumitangerang Mesindotama, PT Cocoa Ventures Indonesia, PT Freyabadi Indotama, PT Gandum Mas Kencana, PT Teja Sekawan Cocoa Industries, PT Kakao Mas Gemilang dan PT Sekawan Karsa Mulia. Sedangkan pabrik baru yang dibangun adalah PT Asia Cocoa Indonesia (PMA) di Batam, PT Maju Bersama Cocoa Industries, PT Budidaya Kakao Lestari, PT Jaya Makmur Hasta dan PT Unicom Kakao Makmur Sulawesi. Keenam pabrik itu menambah kapasitas kakao nasional sebanyak 430.950 ton per tahun.

“Pemerintah terus berusaha meningkatkan hilirisasi perekonomian berbasis sumber daya alam untuk meningkatkan nilai tambah industri nasional,’ kata Hidayat.

Sepanjang 2009 – 2010, Indonesia menghasilkan 550.000 ton biji kakao atau produsen terbesar ketiga dunia setelah Pantai Gading dan Ghana, industri domestik menyerap 28 persen dari produksi tersebut. Volume ekspor kakao olahan naik 26 persen pada 2010 menjadi 103.055 ton dari sebelumnya sebanyak 81.993 ton pada 2009. Di sisi lain, ekspor biji kakao turun 2 persen pada tahun lalu namun mengalami lonjakan nilai ekspor hingga 10 persen menjadi 1,19 miliar dollar AS pada 2010. (gus).

Tidak ada komentar: