Selasa, 26 April 2011

Industri Semen Diyakini Prospektif

Pertumbuhan konsumsi semen tahun ini dipreksi 6-10 persen menurut catatan Asosiasi Semen Indoensia dan angkanya bisa lebih tinggi lagi jika pemerintah merealisasikan sejumlah rencana proyek infrastrukturnya, sebab porsi konsumsi semen untuk pembangunan infrastruktur masih kecil yakni 30 persen.




Ketua Umum Asosiasi Semen Indonesia (ASI) Urip Timuryono mengatakan, konsumsi semen nasional diproyeksikan tumbuh 10 persen menjadi 44,33 juta ton dibanding 2010 yang 40,3 juta ton. Angka itu lebih tinggi dibanding pertumbuhan tahun-tahun sebelumnya yang selalu diangka 6 persen, atau sedikit di atas pertumbuhan ekonomi nasional.

“Pertumbuhan konsumsi semen bisa lebih tinggi lagi jika pemerintah merealisasikan sejumlah proyek infrastruktur yang sudah direncanakan, sebab porsi konsumsi semen oleh pemerintah masih kecil yakni 30 persen sedangkan swasta 60-70 persen,” katanya.

Untuk memenuhi kebutuhan konsumsi maka kapasitas terpasang industri semen nasional harus ditingkatkan dari 47 juta ton saat ini menjadi 51 juta ton berdasarkan perhitungan utilisasi industri se-men yang mencapai 85 persen. Oleh karena itu, wajar jika perusahaan semen gencar melakukan ekspansi usaha dengan meningkatkan kapasitas pabriknya.

Alhasil, pendapatan dan laba yang diperoleh perusahaan semen juga akan terus meningkat seiring dengan pertumbuhan penjualan. PT Semen Gresik Tbk bahkan menargetkan pertumbuhan laba 10-15 persen senilai 4 triliun rupiah pada tahun 2011 ini disbanding 2010 yang 3,63 triliun rupiah.

Direktur Utama Semen Gresik Dwi Sutjipto mengatakan, pertumbuhan laba pada 2011 akan dipicu peningkatan produksi serta mulai beroperasinya dua pabrik baru pada akhir tahun ini. Dua pabrik baru tersebut berlokasi di Tonasa Sulawesi Selatan, dan Tuban, Jawa Timur dengan total kapasitas produksi total lima juta ton.

Dengan penambahan kapasitas dua pabrik baru tersebut, maka total kapasitas produksi perseroan mencapai 25 juta ton dari 18,5 juta ton pada 2010. Dengan produksi tersebut perseroan membukukan pendapatan 14 triliun rupiah pada tahun 2010 dan tahun ini diprediksi tumbuh 10 persen menjadi 15,4 triliun rupiah.

Perusahaan lainnya yaitu PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk juga memproyeksikan pertumbuhan laba dan penjualan pada tahun ini seiring membaiknya kinerja tahun 2010. Sepanjang tahun 2010 perseroan mencatat laba bersih 3,225 triliun rupiah tumbuh 17,4 persen dibanding tahun lalu yang 2,747 triliun rupiah. Peningkatan laba dipicu naiknya pendapatan dari 10,576 triliun rupiah di 2009 menjadi 11,138 triliun rupiah tahun 2010.

PT Holcim Indonesia Tbk juga meningkatkan proyeksi pertumbuhan labanya tahun 2011 ini yakni 950 miliar rupiah atau naik sekitar 6 persen dibanding 2010 yang 895,75 miliar rupiah. Deputy CFO Holcim Irman An-driesjah mengatakan peningkatan itu seiring dengan peningkatan konsumsi semen nasional pada tahun ini sebesar 6-10 persen.


Meningkatnya kinerja emiten semen membuat sejumlah analis dan lembaga riset merekomendasikan untuk mengoleksi saham perusahaan semen.

Riset yang dilakukan Deutsche Bank AG bahkan merekomendasikan untuk membeli saham-saham di sektor semen karena masih memiliki prospek yang menjanjikan pada tahun ini. Salah satu faktor pemicu adalah rendahnya ongkos produksi bakal menjadi sentimen positif bagi kinerja para emiten.

CEO Grup Bosowa, Erwin Aksa mengatakan, industri semen nasional bisa tumbuh lebih tinggi, dan hal itu sangat tergantung dari seberapa cepat pemerintah bisa merealisasikan rencana pembangunan infrastrukturnya.

Untuk itu, produsen semen butuh kepastian pemerintah terkait pengerjaan proyek proyek infrastrukturnya seperti jalan tol, jembatan sulat sunda, jalan layang dan lainnya. Percepatan pembangunan proyek tersebut akan memicu produsen semen untuk meningkatkan produksinya. (gus).

Tidak ada komentar: