Selasa, 18 Mei 2010

Ancol Batal Terbitkan Obligasi

JAKARTA – Perusahaan wisata milik Pemerintah DKI Jakarta, PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk dipastikan batal menerbitkan obligasi sekitar 200 miliar rupiah tahun ini, karena perseroan mengurangi biaya investasi atau belanja modal dari 520,93 miliar rupiah menjadi 300 miliar sampai 350 miliar rupiah, sehingga bisa digunakan dana dari internal untuk pembiayaannya.





Sekretaris Perusahaan Ancol Fransiscus Xaverius Husni mengatakan, perseroan awalnya membutuhkan belanja modal atau dana investasi tahun ini sejumlah 520,93 miliar rupiah, yang akan digunakan untuk menambah fasilitas dan membangun wahana bermain baru. Dana itu diperoleh dari kas internal sebesar 300 miliar sampai 350 miliar rupiah dan dari pasar dengan cara menerbitkan obligasi sekitar 200 milar rupiah.

Namun, dalam perkembangan selanjutnya, perseroan hanya membutuhkan dana 300 miliar sampai 350 miliar rupiah disebabkan ada beberapa proyek yang ditunda pengerjaanya tahun depan. Dengan demikian, rencana penerbitan obligasi dibatalkan, karena perseroan dapat menggunakan dana internal untuk mendanai proyek tahun ini.

“Dana yang ada di kas internal kami saat ini sekitar 400 miliar rupiah, sehingga bila kebutuhan investasinya hanya 300 miliar sampai 350 miliar rupiah bisa menggunakan dana internal dan tidak perlu menerbitkan obligasi,” katanya, Jumat (7/5).

Dana 300 miliar sampai 350 miliar tersebut akan digunakan untuk mengerjakan beberapa proyek antara lain, membangun wahana bermain rivers osmosis sekitar 50 miliar rupiah, pengembangan Dunia Fantasi 50 miliar rupiah, membangun Eco Park sekitar 100 miliar rupiah dan beberapa proyek pengembangan wahana bermain lainnya.

Terkait dengan kinerja di kuartal satu ini, Fransiscus mengatakan perseroan membukukan pendapatan 156,5 miliar rupiah naik 19,1 persen dibanding periode sama 2009 yang 131,4 miliar rupiah, kemudian laba bersih naik 18,3 persen dari 11,5 miliar rupiah di kuartal satu 2009 menjadi 13,6 miliar rupiah di kuartal satu ini.

Dijelaskan, peningkatan laba dan pendapatan dikuartal satu ini dipengaruhi oleh langkah perusahaan yang menaikan harga tiket rata rata 20 persen di wahana bermain, selain itu juga di sumbang dari peningkatan jumlah pengunjung dan sumbangan dari sector property.

Sektor property, katanya memberi kontribusi cukup besar karena beberapa proyek yang sudah dibeli pada tahun lalu oleh konsumen sudah dilakukan pembayaran pada kuartal satu ini, sehingga kontribusinya terhadap pendapatan keseluruhan naik dari biasanya hanya 40 persen menjadi 50 persen terhadap total pendapatan. Kontribusi dari sector property juga diperkirakan akan terus meningkat pada tahun ini, seiring dengan telah dilaunchingnya proyek baru yang diberi nama Marina Rivers.

Franciscus optimistis hingga akhir tahun nanti, target pertumbuhan pendatapan 10-15 persen bisa dicapai. Pihaknya juga yakin target peningkatan jumlah pengunjung sebesar 5 persen bisa tercapai karena adanya wahana bermain baru dan beberapa permaianan yang lama juga sudah dilakukan pengembangan dan penataan yang lebih baik. Sementara itu, jumlah pengunjung pada 2009 sebesar 14 juta pengunjung.

Analis PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Dipo Akbar Panuntun dalam riset yang dipublikasikan Maret 2010 menyebut, kinerja Ancol tahun ini cukup prospektif. Pada tahun 2009 lalu perseroan mendatangkan lebih dari 14 juta orang pengunjung. Jika dirata-rata, setiap dua detik perseroan menjual satu tiket kepada satu pengunjung, sepanjang tahun.Untuk terus mendongkrak perolehan tiket rekreasi, perseroan menargetkan peresmian Eco-park pada triwulan IV tahun ini, yang terdiri dari taman burung, taman bercocok tanam anak-anak dan kanal-kanal pesiar mini.

Perseroan juga berencana menambah wahana permainan baru di Dunia Fantasi (Dufan) yang mulai beroperasi pada akhir 2010. Dipo menilai rencana tersebut akan berdampak langsung pada kinerja tahun ini, meski wahana tersebut baruterealisasi pada akhir tahun."Didukung Eco-park dan wahana baru, kami memperkirakan penjualan Jaya Ancol dari tiket rekreasi akan tumbuh 11,8 persen pada 2010 dan rata-rata sebesar 18,7 persen per tahun hingga 2013," katanya.

Sebagai sarana rekreasi terbesar, lanjutnya, pendapatan Jaya Ancol dari tiket rekreasi akan terus meningkat tiap tahun. Pada 2005 hingga 2009, Pefindo mencatat pendapatan perseroan dari tiket rekreasi tumbuh dengan rerata pertumbuhan sebesar 20 persen per tahun.Penjualan tiket tersebut menjadi penyelamat kinerja Jaya Ancol pada tahun lalu. Ketika pendapatan perseroan dari sektor properti turun 79 persen secara tahunan, pendapatan dari penjualan tiket justru naik 20 persen secara tahunan, diikuti peningkatan pendapatan hotel dan restoran sebesar 29 persen.(gus).

Tidak ada komentar: