Kamis, 29 Oktober 2009

Alih Bisnis Sejumlah Emiten Terganjal Dana

BATAM - Perusahaan lem dan perekat kayu lapis, PT Duta Pertiwi Nusantara Tbk diperkirakan terhambat proses alih bisnisnya ke pertambangan batu bara, karena belum tersedianya dana untuk eksplorasi pertambangan batu bara di Provinsi Jambi.







Presiden Komisaris PT Duta Pertiwi Nusantara Tbk Ng Tjie Koang mengatakan, perseroan sampai saat ini belum mendapatkan dana yang dibutuhkan sekitar 644 miliar rupiah untuk melakukan kegiatan eksplorasi pertambangan batu bara di Provinsi Jambi, akibatnya rencana alih bisnis terhambat.

“Sampai saat ini dana yang kami butuhkan untuk alih bisnis belum diperoleh,” katanya kepada Koran Jakarta, Jumat (30/10).

PT Duta Pertiwi Nusantara Tbk sendiri awalnya bergerak di industri lem atau perekat kayu lapis dengan produk utamanya urea formaldehyde, Phenol formaldehyde, urea melamine formaldhehyde dan particle board glue. Perseroan merubah bisnisnya ke pertambangan batu bara karena dinilia prospektif, selain itu pendapatan dari bisnis lama juga kurang menjanjikan karena tidak dicapainya target pendapatan.

Belum memperoleh dana yang dibutuhkan, kata Ng Tjie disebabkan investor masih menunggu hasil survey atau pemetaan yang sedang dilakukan bekerjasama dengan JORC Refort Australia. JORC Refort adalah lembaga yang mengeluarkan sertifikat mengenai kualitas dan kuantitas batu bara yang diakui secara internasional.

Meski demikian, dari survey awal yang dilakukan perseroan, pertambangan itu memiliki kandungan batu bara sekitar 250 juta sampai 300 juta ton, namun jumlah itu masih akan diteliti lebih lanjut oleh JORC Refort.

Perseroan memperkirakan produksi awal yang dihasilkan dari pertambangan di Jambi pada 2010 sebanyak 600-700 ribu ton pertahun, dengn kualitas 5300-5500 kalori. Pada tahun ketiga, produksi ditargetkan satu juta sampai 1,3 juta ton pertahun, sedangkan tahun kelima produksi ditargetkan dua juta ton pertahun.

Beberapa Emiten lainnya juga mengalami kendala dana dalam proses alih bisnisnya seperti PT Hanson International Tbk. Perseroan yang awalnya bergerak di industri tekstil merubah bisnisnya ke pertambangan batu bara pada awal tahun ini. Untuk itu managemen akan menambah kepemilikan sahamnya di perusahaan terafiliasi yakni Hanson Energy dari 10 persen menjadi 99 persern, namun proses pembeliannya belum bisa dilakukan karena tidak tersedianya dana.

Sementara itu, PT Cipendawa Tbk yang juga mengalami kendala pendanaan untuk alih bisnisnya dari industri ternak ke pertambangan batu bara terpaksa mengaji ulang rencana tersebut karena belum tersedianya dana sekitar 200 miliar rupiah untuk memulai bisnis barunya tersebut.

Sekretaris Perusahaan Cipendawa Oding Hadibeno mengatakan, Dalam Hasil Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang dilakukan akhir 2008 diputuskan untuk mengganti bisnis utama (core business) dari peternakan ke pertambangan batu bara.

Untuk merubah bisnis utama tersebut, kata dia, perseroan membutuhkan dana sekitar dua ratus miliar rupiah yang rencananya akan dicari lewat beberapa alternatif seperti penawaran Saham terbatas atau rights issue, pinjaman bank dan penerbitan obligasi.

Namun, kondisi ekonomi global yang tidak kondusif dan berpengaruh pada ekonomi nasional menyebabkan langkah pergantian bisnis terpaksa dihentikan untuk sementara waktu, karena pemegang saham belum mendapatkan dana senilai 200 miliar rupiah tersebut.

Padahal, kata Oding, dana itu harus tersedia untuk mengakuisisi beberapa perusahaan tambang batu bara di Kalimantan dan Sumatra. Pergantian bisnis ke pertambangan sendiri perlu dilakukan karena perseroan menilai sektor pertambangan batu bara cukup prospektif. Alasannya, permintaan batu bara sampai beberapa tahun kedepan masih tinggi karena kebutuhan PLN untuk bahan bakar juga tinggi. Selain itu, sektor swasta juga membutuhkan batu bara untuk bahan bakarnya, setelah naiknya harga bahan bakar minyak.

Pengamat Pasar Modal Felix Sindhuwinata kepada Koran Jakarta mengatakan, tidak mudah bagi perusahaan kecil terlebih yang memiliki kinerja kurang baik untuk menyerap dana dari pasar modal guna membiayai rencana bisnisnya. Pasalnya, investor saat ini relatif lebih teliti dalam menginvestasikan dananya.

“Sulit bagi emiten kecil untuk mencari dana dari pasar dan bank saat ini, karena harus bersaing dengan perusahaan besar yang juga melakukan hal yang sama sehingga harus dicari alternative lain seperti melakukan Joint ventura atau investment bank,” katanya, Jumat (30/10).

Biasanya, kata Felix, investor akan membeli obligasi atau saham terbatas yang diterbitkan perusahaan bila kinerja dan track record perusahaan itu baik, hal itu bisa dilihat dari rating perusahaan tersebut bila ingin menerbitkan obligasi.

Sementara itu, banyak perusahaan besar juga saat ini yang menerbitkan obligasi sehingga perusahaan atau emiten kecil harus bersaing dengan perusahaan besar tersebut. Dengan demikian, perusahaan kecil harus memberikan kupon diatas rata rata yang ditawarkan perusahaan besar tersebut, namun masalahnya, kata Felix, bila perusahaan kecil tersebut memberikan kupon yang besar maka harus diperhatikan kemampuannya untuk membayar kupon tersebut dan apakah obligasi bisa diserap pasar.

Untuk itu, Felix menyarankan kepada perusahaan kecil yang membutuhkan dana guna merealisasikan rencana bisnisnya agar melakukan Joint Ventura dengan perusahaan lain. Langkah itu lebih masuk akal ketimbang mencari dana dari pasar dan bank, karena bank sendiri pastinya akan menawarkan suku bunga yang tinggi disamping itu juga bank akan meminta asset sebagai jaminan. Bila perusahaan tidak memiliki asset, maka dana dari bank akan sulit diperoleh.

Selain joint ventura, Emiten kecil juga bisa melakukan Investment Bank dengan sejumlah bank karena dengan berbagai keuntungan dengan bank, maka dana yang dibutuhkan bisa diperoleh. (gus).


1 komentar:

Amisha mengatakan...

Saya telah berpikir bahwa semua perusahaan pinjaman online curang sampai saya bertemu dengan perusahaan pinjaman Suzan yang meminjamkan uang tanpa membayar lebih dulu.

Nama saya Amisha, saya ingin menggunakan media ini untuk memperingatkan orang-orang yang mencari pinjaman internet di Asia dan di seluruh dunia untuk berhati-hati, karena mereka menipu dan meminjamkan pinjaman palsu di internet.

Saya ingin membagikan kesaksian saya tentang bagaimana seorang teman membawa saya ke pemberi pinjaman asli, setelah itu saya scammed oleh beberapa kreditor di internet. Saya hampir kehilangan harapan sampai saya bertemu kreditur terpercaya ini bernama perusahaan Suzan investment. Perusahaan suzan meminjamkan pinjaman tanpa jaminan sebesar 600 juta rupiah (Rp600.000.000) dalam waktu kurang dari 48 jam tanpa tekanan.

Saya sangat terkejut dan senang menerima pinjaman saya. Saya berjanji bahwa saya akan berbagi kabar baik sehingga orang bisa mendapatkan pinjaman mudah tanpa stres. Jadi jika Anda memerlukan pinjaman, hubungi mereka melalui email: (Suzaninvestment@gmail.com) Anda tidak akan kecewa mendapatkan pinjaman jika memenuhi persyaratan.

Anda juga bisa menghubungi saya: (Ammisha1213@gmail.com) jika Anda memerlukan bantuan atau informasi lebih lanjut