Loading...

Jumat, 30 Oktober 2009

Pasar Mulai Rebound

Diperkirakan hari ini Bursa Efek Indonesia memiliki momentum balik seiring dengan perkembangan positif di pasar uang, perkembangan ekonomi AS yang cukup menjanjikan dan kinerja emiten-emiten BUMN yang cukup bagus. Pada perdagangan Jumat pagi ini IDR kembali menguat seiring dengan penguatan mata uang kuat terhadap USD.







Nampaknya pelaku pasar mulai melepas USD dan kembali menubruk saham-saham seiring dengan perkembangan positif perekonomian AS. Tadi malam waktu Jakarta, Departemen Perdagangan AS melaporkan pertumbuhan ekonomi AS di kuartal 3 2009 mencapai 3,5%. Atas laporan tersebut pelaku pasar yang telah melepas saham pada 3 hari terakhir karena kecewa atas melemahnya penjualan perumahan dan turunnya indeks kepercayaan konsumen di AS, kembali menubruk saham-saham.

Indeks Dow 30 melesat 199,89 atau 2,05% ke titik 9.962,58. Indeks yang lebih luas seperti S&P500 juga melejit sebangun 23,48 poin atau 2,25% ke titik 1.066,11. Sementara itu harga minyak kembali naik mendekati titik $80 seiring dengan perkembangan pertumbuhan kuat ekonomi AS tersebut.

Di Jakarta perdagangan saham Kamis kemarin sempat dilanda kepanikan setelah pelaku BBRI. IHSG berfluktuasi tajam dan sempat jatuh ke titik terendah di 2.235 sebelum kembali naik dan ditutup sedikit minus 11,28 ke titik 2.344. Perdagangan Kamis kemarin diwarnai dengan aksi ’jual paksa’ atas fasilitas marjin terutama terhadap saham-saham Grup Bakrie. Namun pada sesi kedua perkembangan ini diantisipasi oleh spekulan dengan memborong saham-saham Grup Bakrie yang terpuruk tadi. Sebagai contoh, saham BUMI yang sempat terpelanting ke dasar Rp2.100 akhirnya ditutup menguat ke Rp2.475.

Sementara itu di pasar uang, IDR kembali menguat terhadap USD secara signifikan ke titik 9.535. Kepanikan mereda apalagi setelah pelaku pasar menyaksikan Bank Indonesia turun tangan untuk menjual USD. Intervensi ini berhasil meredam kepanikan di pasar.

Fokus pada Saham BUMN, Barang Konsumen

Direkomendasikan beberapa saham BUMN masih bisa dibeli yaitu SMGR, BBRI, BMRI, PGAS, PTBA serta saham-saham barang konsumen seperti UNVR dan INDF. Pengumuman inflasi Oktober yang diperkirakan rendah di kisaran 0,4% - 0,6% pada Senin mendatang akan mendorong saham-saham barang konsumen naik.

Batam Contoh Penerapan Pusat Layanan Terpadu Nasional

BATAM - Pada masa Menkoperekonomian dijabat Boediono, Batam ditetapkan sebagai pilot project pusat pelayanan satu atap untuk seluruh prosedur perijinan investasi di Indonesia. Maka, pada saat itu, seluruh instansi yang berwenang mulai berkantor di satu gedung yakni Gedung Promosi Sumatra atau Sumatra Promotion Centre.








Instansi dimaksud adalah Badan Kordinasi Penanaman Modal Nasional (BKPM), Departemen Keuangan, Departemen Perdagangan, Departemen Perindustrian, Departemen Hukum dan HAM, Pemerintah Kota Batam dan Otorita Batam.

Langkah itu dilakukan pemerintah untuk mendorong arus investasi khususnya dari luar negeri agar bisa masuk dengan deras ke Batam, sehingga layanan perijinan harus dibuat secepat dan semudah mungkin dengan biaya minimal.

Itu tidak terlepas dari kondisi ekonomi yang cukup parah semenjak tahun 1997, dimana perekonomian Indonesia dan Negara Asean mengalami penurunan sehingga diperlukan kebijakan untuk memulihkan kepercayaan terhadap investor dan perbankan.
Sampai dengan tahun 2006 perekonomian Indonesia belum pulih dengan sempurna, maka pemerintah pusat melakukan review kebijakan ekonomi dengan memberlakukan KEK (Kawasan Ekonomi Khusus) pada beberapa wilayah Indonesia dengan pilot projek Batam-Bintan-Karimun (BBK).

KEK merupakan Kawasan (Zone) tertentu dimana diberikan ketentuan khusus di bidang: Bea dan Cukai (Customs), Perpajakan (Tax), Perizinan (licensing) satu atap (one stop service), Keimigrasian (Immigration) dan Ketenagakerjaan (labor Policy).
Dipilihnya BBK karena letak stategis Provinsi Kepulauan Riau yang mempunyai jarak tempuh relative dekat dengan Negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, dan Kore Selatan, dalam usaha untuk meningkatkan perekonomian Indonesia pada umumnya dan Kepulauan Riau pada khususnya.

Sehingga dengan diberikannya failitas tersebut diharapkan terjadi Peningkatan investasi , Penyerapan tenaga kerja, Peningkatan penerimaan devisa dari ekspor, Peningkatan daya saing dan Peningkatan pemanfaatan sumber daya local, pelayanan dan capital bagi peningkatan ekspor.

Untuk mendukung tujuan tersebut, maka pemerintah membentuk pusat layanan terpadu satu atap di Batam. Tujuannya agar seluruh proses perijinan investasi bisa dilakukan dengan cepat dan tidak perlu lagi mengurusnya di Jakarta tapi bisa langsung di lakukan di Batam.

Kepala Badan Penanaman Modal, Investasi dan Promosi Provinsi Kepri Muhamad Taufik mengatakan, di pusat layanan satu atap itu terdapat sekitar 33 perijinan yang bisa dilakukan secara langsung di satu tempat dengan waktu pengurusan hanya beberapa hari, bahkan bisa dilakukan dalam waktu satu hari saja.

33 perijinan yang diberikan tersebut antara lain, Perijinan dari kantor Badan Kordinasi Penanaman Modal Nasional (BKPM) diantaranya, persetujuan Baru PMDN dan PMA, Persetujuan perluasan PMDN dan PMA, Angka pengenal importir terbatas (APIT) dan ijin usaha tetap (IUT) PMDN dan PMA.

Lalu, perijinan dari Departemen Keuangan diantaranya, Penerbitan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP), Penerbitan Nomor Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak (NPPKP, Persetujuan dan Fasilitas bea masuk, Rencana Impor Barang (RIB), Fasilitas kemidahan impor untuk tujuan ekpor (KITE), Fasilitas perpajakan (PPn impor dan PPh impor dan Persetujuan dan perizinan lainnya

Dari Departemen Perdagangan diantaranya, Angka Pengenal Impor Produsen (APIP), Nomor Pengenalan Impor Khusus (NPIK) dan Izin impor mesin peralatan atau barang (bahan baku).

Perijinan dari Departemen Perindustrian antara lain, Rekomendasi impor nmesin dan bahan yang memerlukan izin impor khusus. Sedangkan dari Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi diantaranya, Pengesahan Rencana Penggunaan Tenaga Kerja Asing (RPTKA), Rekomendasi TA 01 dan TA 02, Izin Menggunakan Tenaga Kerja Asing (IMTA) dan perpanjangan IMTA, Izin lainnya yang diperlukan perusahaan yang berlokasi di Kawasan ekonomi Khusus (KEK)

Dari Departemen Hukum dan HAM diantaranya, Pengesahan akta pendirian dan akta perubahan Perseroan Terbatas (PT), Pemberitahuan kepada perwakilan RI di luar negeri untuk mengeluarkan Visa Tinggal Terbatas (VITAS), Kartu Izin Tinggal tebatas (KITAS) dan Perizinan lainnya yang diperlukan perusahaan yang berlokasi di Kawasan ekonomi Khusus KEK

Perijinan dari Pemerintah Kota Batam dan Otorita Batam antara lain, izin lokasi, Izin Mendirikan Bangunan (IMB), Izin Undang-undang gangguan (HO), Tanda Daftar Perusahaan (TDP), Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP), Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal), Surat Keterangan Asal Produk (SKA), Perizinan dari Otorita Batam untuk mendirikan usaha di Kawasan ekonomi Khusus KEK Batam dan Perizinan Daerah lainnya

Menurut Taufik, seluruh perijinan itu bisa lansung dilakukan di pusat layanan terpadu satu atap di Gedung Sumatra Promotion Centre karena seluruh lembaga berwenang telah menempatkan petugasnya di gedung tersebut, sehingga investor atau pengusaha tidak perlu menunggu waktu lama untuk mengurus procedural ijin usahanya karena tidak perlu menunggu konfirmasi dari Jakarta, tapi sudah bisa di selesaikan di Batam. (gus).

Kamis, 29 Oktober 2009

HALLOWEEN Nights di MAX

JAKARTA – Bulan ini, MAX mengajak para pemirsanya merayakan Halloween dengan menantang untuk berhadapan empat mata dengan tokoh-tokoh horror dan supranatural selama sepuluh malam berturut-turut mulai jam 21.00 WIB, dari tanggal 23 Oktober hingga 1 November 2009. Berikut adalah ringkasan dari film-film yang akan ditampilkan, termasuk musim final dari TRUE BLOOD 2, serta penayangan perdana film-film di MAX, antara lain LOST BOYS: THE TRIBE, REST STOP: DON’T LOOK BACK and THE TEXAS CHAINSAW MASSACRE: THE BEGINNING.







Halloween Nights: TRUE BLOOD (HBO Original Series)
Season two finale: penayangan perdana berturut-turut dua episode, Sabtu, 31 Oktober jam 21.00 WIB.

Krisis yang dialami di Bon Temps semakin diluar kendali, Bill mencari pendapat dari Sophie-Anne, Vampire Queen dari Lousiana. (diperankan oleh Evan Rachel Wood), tetapi dalam perjalanannya ia diminta untuk bersabar, sebelum akhirnya sang ratu vampir memberikan informasi penting. Sementara itu, Sookie dan Lafayette menyadari bahwa melindungi Tara dari dirinya sendiri ternyata lebih sulit dari yang dibayangkan. Sam yang tengah putus asa, mencari bantuan dari seseorang yang tidak seharusnya, dan sikap kesetiaan yang diperlihatkan oleh Hoyt’s juga mendapat ujian dari Jessica.
Film bertema horor dan suspense lain yang tayang perdana di MAX selama bulan Oktober antara lain.
WIND CHILL
Tayang perdana, Jumat, 23 October jam 20.00 WIB.

Dua orang mahasiswa dimainkan oleh Ashton Holmes dan Emily Blunt, pulang kampung dalam satu kendaraan yang sama. Ketika mobil yang mereka tumpangi mogok di tengah padang dengan jalanan yang lengang dan panjang, mereka menjadi mangsa dari roh-roh yang bergentayangan karena kecelakaan yang mereka alami di lokasi tersebut.

REST STOP: DON’T LOOK BACK
Tayang Perdana, Jumat, 23 Oktober, 20.00 WIB.

Kopral Tom Hilts kembali dari luar negeri untuk mencari saudara laki-lakinya bernama Jess, yang ternyata hanya mendapat informasi bahwa Jess telah pindah ke California bersama pacarnya Nicole. Tom, Jared serta pacarnya Marilyn menempuh perjalanan dengan dua kendaraan berbeda sepanjang jalan raya California, ketika mereka mendapat serangan dari seorang penumpang truk sewaan di tempat pemberhentian. Marilyn melihat roh Nicole di kamar mandi, dan sejak itu dia menyadari bahwa sesuatu yang berbau supranatural tengah terjadi di tempat mereka beristirahat.

RETURN OF THE LIVING DEAD
Tayang Perdana Sabtu, 24 Oktober 21.00 WIB di MAX

Ini merupakan sekuel dari film yang banyak disuka ”Return Of The Living Dead.” Ketika sekelompok anak menemukan tong dengan mayat yang sudah membusuk didalamnya, mereka sedikit menyadari bahwa mereka telah melepaskan sebuah gas misterius yang membuat bangun penghuni-penghuni kuburan di sekitarnya. Bangkit dan lapar akan otak manusia, mayat hidup yang berlumuran darah ini bangkit dan membawa malapetaka bagi warga di sekitarnya.

LOST BOYS: THE TRIBE
Tayang Perdana Minggu, 25 Oktober, 20.00 WIB di MAX

Anak yatim piatu dan mantan pemain selancar, Chris dan adik perempuannya Nicole, pindah ke Luna Bay mengharapkan sebuah kehidupan baru bersama tante mereka. Disana, Chris kemudian bertemu dengan teman sesama peselancar, Shane Powers yang mengundang Cris dan adiknya Nicole hadir ke pesta selancar di malam hari. Akhirnya mereka baru menyadari bahwa pesta yang mereka ingin datangi tersebut diadakan oleh vampir, yang pastinya akan haus darah sebelum malam berakhir.
NIGHT OF THE DEMONS 2
Tayang Perdana Senin, 26 Oktober, 21.30 WIB di MAX

Legenda menyebutkan bahwa sebuah rumah besar yang indah telah dihantui oleh setan – setan, yang dipimpin oleh setan jahat bernama Angela. Sekempolan anak muda pemberontak, dan senang mencari bahaya memutuskan untuk membuktikan bahwa legenda Angela ini masih ada, dengan menghabiskan malam Halloween mereka di dalam rumah tersebut. Satu demi satu dari mereka menemui ajal mereka dengan bersimbah darah, dan akhirnya mereka berubah menjadi setan yang mengisi ruangan di dalam rumah. Jangan lewatkan aksi seorang biarawati memegang senjata mirip Rambo menyemprotkan air suci, yang membuat rumah setan in imenjadi ajang pertempuran hingga mati.

DISTURBING BEHAVIOR
Tayang Perdana Rabu, 28 Oktober, 20:00 WIB di MAX

Kota kecil, yang dikenal dengan Cradle Bay tidak seperti kelihatannya. Ketika kebanyakan anak – anak seusia mereka sibuk membuat pusing orang tua dengan kelakuannya, justru anak muda di kota ini kelihatan seperti anak muda yang bisa dijadikan panutan. Mereka bahkan memiliki klub kecil sendiri yang dikenal dengan nama “The Blue Ribbons”, dan mereka suka sekali untuk merekrut anggota baru. Ketika anak baru, Steve, tiba di kota ini, kelompok ini langsung memasukkannya menjadi salah satu calon anggota. Dan ketika Steve berteman dengan dua orang anak yang tidak sesuai secara sosial dengan kelompok ini di sekolah, Gavin (Nick Stahl) dan Rachel (Katie Holmes), lambat laun mereka bertiga mulai mengetahu rahasia mengerikan yang membuat para pemuda ini kelihatan seperti anak muda yang sempurna.


LEPRECHAUN BACK 2 THA' HOOD
Tayang Perdana Kamis, 29 Oktober, 20:00 di MAX

Sekelompok teman berubah dari miskin ke kaya ketika mereka tersandung harta karun. Kemudian mereka akhirnya mengetahui bahwa barang rampasan ini adalah milik laki – laki hijau kecil yang mengerikan dan ia menginginkannya untuk dikembalikan. Dihiasi dengan bling-bling dan rokok yang terus menerus, Leprechaun menghilangkan teman – teman yang tidak menaruh kecurigaan apapun padanya, satu persatu.
THE LOST BOYS
Tayang Perdana Jumat, 30 Oktober, 20:00 WIB di MAX

Ketika seorang ibu tunggal dan dua orang anak laki – lakinya pindah ke sebuah pinggiran pantai yang sepi di Santa Clara, mereka mendapatkan banyak hal diluar yang telah mereka duga, dalam kombinasi gambaran yang sungguh mencengangkan antara kekocakan, horror, dan rock ‘n’ roll dari kelompok vampir kontemporer yang paling aneh dan menarik

THE TEXAS CHAINSAW MASSACRE: THE BEGINNING
Tayang Perdana Minggu, 1 November, 20:00 WIB di MAX

Setelah menteror penonton dalam tiga dekade, asal usul dari Leatherface akhirnya akan dibuka di dalam film horror klasik yang mencekam – The Texas Chainsaw Massacre. Film ini menceritakan cerita mengenai kegelapan dan kekacauan, yang sangat mengerikan dan mencekam yang merubah genre film horror ke dalam sebuah level terror baru. (Rilis)

Alih Bisnis Sejumlah Emiten Terganjal Dana

BATAM - Perusahaan lem dan perekat kayu lapis, PT Duta Pertiwi Nusantara Tbk diperkirakan terhambat proses alih bisnisnya ke pertambangan batu bara, karena belum tersedianya dana untuk eksplorasi pertambangan batu bara di Provinsi Jambi.







Presiden Komisaris PT Duta Pertiwi Nusantara Tbk Ng Tjie Koang mengatakan, perseroan sampai saat ini belum mendapatkan dana yang dibutuhkan sekitar 644 miliar rupiah untuk melakukan kegiatan eksplorasi pertambangan batu bara di Provinsi Jambi, akibatnya rencana alih bisnis terhambat.

“Sampai saat ini dana yang kami butuhkan untuk alih bisnis belum diperoleh,” katanya kepada Koran Jakarta, Jumat (30/10).

PT Duta Pertiwi Nusantara Tbk sendiri awalnya bergerak di industri lem atau perekat kayu lapis dengan produk utamanya urea formaldehyde, Phenol formaldehyde, urea melamine formaldhehyde dan particle board glue. Perseroan merubah bisnisnya ke pertambangan batu bara karena dinilia prospektif, selain itu pendapatan dari bisnis lama juga kurang menjanjikan karena tidak dicapainya target pendapatan.

Belum memperoleh dana yang dibutuhkan, kata Ng Tjie disebabkan investor masih menunggu hasil survey atau pemetaan yang sedang dilakukan bekerjasama dengan JORC Refort Australia. JORC Refort adalah lembaga yang mengeluarkan sertifikat mengenai kualitas dan kuantitas batu bara yang diakui secara internasional.

Meski demikian, dari survey awal yang dilakukan perseroan, pertambangan itu memiliki kandungan batu bara sekitar 250 juta sampai 300 juta ton, namun jumlah itu masih akan diteliti lebih lanjut oleh JORC Refort.

Perseroan memperkirakan produksi awal yang dihasilkan dari pertambangan di Jambi pada 2010 sebanyak 600-700 ribu ton pertahun, dengn kualitas 5300-5500 kalori. Pada tahun ketiga, produksi ditargetkan satu juta sampai 1,3 juta ton pertahun, sedangkan tahun kelima produksi ditargetkan dua juta ton pertahun.

Beberapa Emiten lainnya juga mengalami kendala dana dalam proses alih bisnisnya seperti PT Hanson International Tbk. Perseroan yang awalnya bergerak di industri tekstil merubah bisnisnya ke pertambangan batu bara pada awal tahun ini. Untuk itu managemen akan menambah kepemilikan sahamnya di perusahaan terafiliasi yakni Hanson Energy dari 10 persen menjadi 99 persern, namun proses pembeliannya belum bisa dilakukan karena tidak tersedianya dana.

Sementara itu, PT Cipendawa Tbk yang juga mengalami kendala pendanaan untuk alih bisnisnya dari industri ternak ke pertambangan batu bara terpaksa mengaji ulang rencana tersebut karena belum tersedianya dana sekitar 200 miliar rupiah untuk memulai bisnis barunya tersebut.

Sekretaris Perusahaan Cipendawa Oding Hadibeno mengatakan, Dalam Hasil Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang dilakukan akhir 2008 diputuskan untuk mengganti bisnis utama (core business) dari peternakan ke pertambangan batu bara.

Untuk merubah bisnis utama tersebut, kata dia, perseroan membutuhkan dana sekitar dua ratus miliar rupiah yang rencananya akan dicari lewat beberapa alternatif seperti penawaran Saham terbatas atau rights issue, pinjaman bank dan penerbitan obligasi.

Namun, kondisi ekonomi global yang tidak kondusif dan berpengaruh pada ekonomi nasional menyebabkan langkah pergantian bisnis terpaksa dihentikan untuk sementara waktu, karena pemegang saham belum mendapatkan dana senilai 200 miliar rupiah tersebut.

Padahal, kata Oding, dana itu harus tersedia untuk mengakuisisi beberapa perusahaan tambang batu bara di Kalimantan dan Sumatra. Pergantian bisnis ke pertambangan sendiri perlu dilakukan karena perseroan menilai sektor pertambangan batu bara cukup prospektif. Alasannya, permintaan batu bara sampai beberapa tahun kedepan masih tinggi karena kebutuhan PLN untuk bahan bakar juga tinggi. Selain itu, sektor swasta juga membutuhkan batu bara untuk bahan bakarnya, setelah naiknya harga bahan bakar minyak.

Pengamat Pasar Modal Felix Sindhuwinata kepada Koran Jakarta mengatakan, tidak mudah bagi perusahaan kecil terlebih yang memiliki kinerja kurang baik untuk menyerap dana dari pasar modal guna membiayai rencana bisnisnya. Pasalnya, investor saat ini relatif lebih teliti dalam menginvestasikan dananya.

“Sulit bagi emiten kecil untuk mencari dana dari pasar dan bank saat ini, karena harus bersaing dengan perusahaan besar yang juga melakukan hal yang sama sehingga harus dicari alternative lain seperti melakukan Joint ventura atau investment bank,” katanya, Jumat (30/10).

Biasanya, kata Felix, investor akan membeli obligasi atau saham terbatas yang diterbitkan perusahaan bila kinerja dan track record perusahaan itu baik, hal itu bisa dilihat dari rating perusahaan tersebut bila ingin menerbitkan obligasi.

Sementara itu, banyak perusahaan besar juga saat ini yang menerbitkan obligasi sehingga perusahaan atau emiten kecil harus bersaing dengan perusahaan besar tersebut. Dengan demikian, perusahaan kecil harus memberikan kupon diatas rata rata yang ditawarkan perusahaan besar tersebut, namun masalahnya, kata Felix, bila perusahaan kecil tersebut memberikan kupon yang besar maka harus diperhatikan kemampuannya untuk membayar kupon tersebut dan apakah obligasi bisa diserap pasar.

Untuk itu, Felix menyarankan kepada perusahaan kecil yang membutuhkan dana guna merealisasikan rencana bisnisnya agar melakukan Joint Ventura dengan perusahaan lain. Langkah itu lebih masuk akal ketimbang mencari dana dari pasar dan bank, karena bank sendiri pastinya akan menawarkan suku bunga yang tinggi disamping itu juga bank akan meminta asset sebagai jaminan. Bila perusahaan tidak memiliki asset, maka dana dari bank akan sulit diperoleh.

Selain joint ventura, Emiten kecil juga bisa melakukan Investment Bank dengan sejumlah bank karena dengan berbagai keuntungan dengan bank, maka dana yang dibutuhkan bisa diperoleh. (gus).


USD Menguat

GLOBAL - Penguatan USD telah memicu kepanikan di bursa-bursa dunia tidak terkecuali Bursa Efek Indonesia. Diperkirakan sampai hari ini kepanikan masih akan berlanjut. Saham-saham di BEI diperkirakan akan merosot tajam akibat dari tekanan jual yang tinggi. Menguatnya USD terhadap IDR secara nyata pagi ini, menembus titik 9.700 juga telah mengirim pesan buruk terhadap pelaku pasar di Jakarta. IHSG kemungkinan tertekan di bawah 2.200 hingga 2.2250.







Pelaku pasar melihat bahwa sistem perdagangan dunia masih sulit menggeser dominasi USD, sebagaimana dinyatakan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani. Saat USD menyentuh titik terendah 13 bulan terakhir, tiba-tiba persepsi pasar berubah dan memastikan bahwa USD tetap akan menjadi mata uang utama dunia.

Data Ekonomi AS masih simpang siur Sementara itu data-data ekonomi AS masih menunjukkan bahwa berakhirnya resesi ekonomi di sana masih sangat simpang siur atau belum nampak konsistensi pemulihan ekonomi.

Sebagai contoh, data penjualan rumah baru oleh Departemen Perdagangan AS untuk bulan September ternyata masih anjlok 3,6% ke 402.000 unit. Sebelumnya secara mengejutkan indeks kepercayaan konsumen AS untuk bulan September juga mengecewakan pelaku pasar. Namun yang menarik, membaiknya kinerja perusahaan-perusahaan public MNC AS seperti Mc Donald, Apple Inc, Dell, telah memicu gelombang repatriasi bursa-bursa di bursa-bursa baru berkembang (emerging market) dan kembali masuk ke New York.

Pada perdagangan saham tadi malam waktu Jakarta, saham-saham di New York terkoreksi setelah pelaku pasar mengambil untung atas berita buruk tentang penjualan rumah baru tersebut. Indeks-indeks utama New York memberikan indikasi penurunan harga-harga saham. Indeks Dow anjlok 114,48 poin atau 1,2% ke 9.762,69. Demikian pula dengan indeks teknologi Nasdaq terkoreksi 56,48 poin atau 2,67% ke 2.059,61. Indeks yang lebih besar S&P500 juga merosot 20,78 poin atau 1,95% ke 1.042,63. Sementara itu tadi pagi, indeks Hang Seng, Nikkei dan Shanghai juga merosot hampir 2% menyusul aksi jual di Wall Street. (*)

PT United Tractors Tbk Uji Coba Produksi Batu Bara di Pertambangan Kalteng





BATAM – Perusahaan alat berat PT United Tractors Tbk (UNTR) mulai uji coba produksi tambang batu bara milik anak usahanya PT Tuah Turangga Agung (TTA) di Buhut Provinsi Kalimantan Tengah dengan perkiraan volume produksi 40 ribu ton sampai akhir tahun ini. Produksi dari tambang tersebut baru mulai dipasarkan pada Kuartal dua 2010, sehingga kontribusi pendapatan dari bisnis batu bara pada tahun 2010 bisa naik dari 10 persen saat ini menjadi 15 persen tahun depan.

Rabu, 28 Oktober 2009

PT Metrodata Electronics Tbk Tambah Saham di Perusahaan Singapura

BATAM – Perusahaan Teknologi Informasi (TI) dan distribusi, PT Metrodata Electronics Tbk akan menambah 20 persen jumlah sahamnya di dua perusahaan TI Singapura yakni Soltius Asia Pte Ltd Singapura dan TTS Infotech Pte Ltd Singapura dari 37 persen saat ini menjadi 57 persen, untuk memperbesar pasarnya di Asia.







Sekretaris perusahaan Metrodata Susanto Djaja mengatakan, perseroan telah menyelesaikan akuisisi 37 persen saham dua perusahaan TI Singapura yakni Soltius Asia Pte Ltd Singapura dan TTS Infotech Pte Ltd Singapura pada Februari 2009 dengan nilai transaksi sekitar 10 juta dollar AS. Dalam perjanjiannya, perseroan mendapat opsi untuk meningkatkan jumlah sahamnya menjadi 57 persen.

“Kami memiliki opsi untuk menambah saham di perusahaan Singapura hingga 57 persen dan akan kami gunakan untuk menambah kapasitas perusahaan,” katanya kepada Koran Jakarta, Rabu (28/10).

Opsi itu, kata dia akan dimanfaatkan agar Metrodata bisa menjadi pengendali dua perusahaan tersebut. Untuk itu dibutuhkan dana sekitar 6,0 miliar rupiah untuk membeli 20 persen saham dua perusahaan tersebut.

Menurut Susanto, pihaknya tidak akan kesulitan mendapatkan dana 6,0 miliar rupiah itu sebab sudah ada fasilitas kredit dari beberapa bank lokal sejumlah 20 juta dollar sampai 30 juta dollar AS dan fasilitas kredit jangka panjang dari investor sebesar 14 juta dollar AS. Dengan demikian, untuk mengakuisisi 20 persen saham dua perusahaan TI Singapura tersebut bisa direalisasikan.

Hanya saja, katanya, perseroan masih menunggu waktu yang tepat untuk menambah saham di dua perusahaan Singapura tersebut, dan diperkirakan tahun depan.

Itu dilakukan untuk meningkatkan kapasitas perusahaan khususnya di bisnis distribusi produk elektronik di pasar Asia sehingga pendapatannya bisa ditingkatkan.

Dikatakan, potensi peningkatakan pendapatan dari bisnis distribusi produk elektronik atau Mid Size Company masih bisa di pacu karena pasar sangat terbuka, baik itu pasar dalam negeri maupun luar negeri. Di dalam negeri, pertumbuhan penjualan notebook tahun 2008 diperkirakan sekitar 110 persen dibanding 2007 dan kondisi itu akan meningkat pada tahun ini, begitupun dengan pasar di Asia. Perseroan sendiri, menjual produk elektronik utamanya merek HP dan Lenovo.

Sementara itu, bisnis solusi TI atau enterprise company yang memberi kontribusi terbesar pada pendapatan perusahaan yakni 55 persen juga masih bisa ditingkatkan karena hampir setiap perusahaan membutuhkan layanan solusi TI. Caranya dengan menambah jumlah konsultan atau tenaga ahli dan meningkatkan kualitas konsultan tersebut melalui pelatihan atau workshop. Perseroan saat ini memiliki sekitar 350-450 konsultan yang umumnya setiap satu orang menangani satu konsumen.

Menyadari potensi pasar yang sangat besar tersebut, kata Susanto menyebabkn perseroan harus membuat beberapa strategi untuk meningkatkan penjualannya. Untuk pasar domestik, perseroan akan melakukan beberapa upaya antara lain, menambah jumlah sales dan agen serta menambah item produk yang akan dijual. Sedangkan di pasar global, perseroan akan meningkatkan jumlah kepemilikan sahamnya di perusahaan Singapura agar produk yang ada di Indonesia juga bisa dengan mudah di pasarkan secara global.

Dengan demikian, perseroan berharap pendapatan tahun ini bisa mencapai 3,2 triliun rupiah dan tahun 2010 diproyeksikan naik 15-20 persen seiring dengan peningkatan bisnis elektronik dan TI.

Sementara, pada semester satu ini, perseroan telah membukukan penjualan 1,6 triliun rupiah, naik 6,7 persen dibanding periode sama 2008 yang 1,5 triliun rupiah. Laba bersihnya 3,2 miliar rupiah turun 80,95 persen dibanding periode sama 2008 yang 16,8 miliar rupiah. Penuruna laba bersih tersebut dipengaruhi pelemahan nilai tukar rupiah.

PT Kresna Seucirites dalam publikasinya 23 Oktober 2009 menyebutkan, PT Metrodata Electronic Tbk (MTDL) memiliki fasilitas standby loan yang berasal dari perbankan senilai USD14 juta-USD20 juta. Fasilitas tersebut akan dipergunakan untuk menjalankan proyek yang didapatkannya nanti.

Dana tersebut akan dipergunakannya untuk masuk dan menjalankan telekomunikasi untuk sisi IT di sektor perbankan dan multifinance, misalnya untuk ATM. Untuk itu, selain memiliki teknisi, pihaknya juga memiliki banking expert.

Di sisi lain, perseroan juga akan masuk ke sektor pertambangan, khususnya minyak serta perkebunan. Serta tak ketinggalan sektor manufaktur dan distribusi, yakni penerapan teknologi informasi khusus untuk penjualan retail.

Selain fasilitas pinjaman, perseroan juga memiliki kas internal untuk membiayai proyek-proyek di sektor yang bakal dimasukinya tersebut. (agus salim).

Selasa, 27 Oktober 2009

Risiko Investasi di Batam Tinggi

BATAM - Sejumlah perusahaan menghentikan kegiatan produksi di Batam tahun ini dengan berbagai alasan, antara lain disebabkan risiko investasi yang cukup tinggi karena ketidakjelasan soal institusi dan regulasi.



Beberapa perusahaan di Batam yang akan tutup tahun ini antara lain PT Sony Chemical yang akan berhenti operasi pada 31 Agustus 2009. Sedangkan yang sudah tutup operasi antara lain, PT Scarmer Batam dan PT Epson Toyocom. Perusahaan lain yang merumahkan ratusan pekerjanya antara lain, PT Unisem, Japan Servo, PT Satu Nusapersada.dan Shin Etsu.

Senior Manager General Affair PT Batamindo Investment Cakrawala, Eddi Kadir mengatakan, PT Sony Chemical yang beroperasi di kawasan industri Batamindo secara administrasi belum mengajukan penghentian sewanya meskipun akan menghentikan akativitas produksi. Pihaknya, kata dia baru mendapat kabar dari Dinas Tenaga Kerja bahwa perusahaan itu akan menghentikan aktivitas produksinya pada Agustus tahun ini dan merumahkan ratusan karyawannya.

“Saya dapat kabar kalau Sony akan berhenti produksi, namun secara administrasi mereka belum melaporkannya,” kata dia.

Kepala Dinas Tenaga Kerja Kota Batam Rudy Sakyakirti mengatakan, Sony Chemical sudah melaporkan akan menghentikan produksinya pada Mei lalu dan akan merumahkan sekitar 300 karyawannya.

Risiko Tinggi



Ketua Kamar Dagang dan Industri kota Batam yang juga Member of Komite Indonesia-Singapura Nada Faza Soraya mengatakan, wajar bila banyak perusahaan yang menghentikan operasinya di Batam. Itu disebabkan krisis global yang menyebabkan order yang diterima perusahaan itu menurun.

Namun, kata Nada faktor utama yang menyebabkan banyaknya perusahaan asing di Batam menghentikan aktivitas operasinya selama beberapa tahun terakhir disebabkan risiko investasi yang makin tinggi, sehingga peluang merugi semakin besar.

Nada menyebutkan, ada dua faktor utama yang menyebabkan risiko investasi di Batam kian meningkat. Pertama, ketidak jelasan soal institusi paska pemberlakuan status perdagangan dan pelabuhan bebas (FTZ) pada 1 April lalu.

Dalam aturan FTZ tersebut, lembaga atau institusi yang selama ini melayani investor yaitu Badan Otorita Batam (OB) menjadi kabur dan digantikan oleh Badan Pengusahaan Kawasan. Proses penggantian itu tidak disebutkan secara jelas dan tegas, terlebih pengusaha juga bingung apakah kewenangan yang dahulunya ada pada OB juga dialihkan ke BP Kawasan.

Kewenangan itu, misalnya soal Hak Pengelolaan Lahan, pengusaha mempertanyakan apakah BP Kawasan punya kewenangan mengeluarkan HPL dan memungut Uang Wajib Tahunan Otorita (UWTO) dan lainnya, seperti yang dilakukan OB.

“Semua itu sangat membingungkan pengusaha,” kata Nada.

Menurut Nada, bila kewenangan Otorita Batam digantikan oleh BP Kawasan, maka proses birokrasi di Batam menjadi lebih panjang dan lebih rumit.

“Bahkan lebih rumit dan lebih panjang dibanding daerah yang bukan FTZ,” katanya.

Pasalnya, dalam aturan FTZ itu, BP Kawasan bertanggung jawab kepada Dewan Kawasan, dan Dewan Kawasan selanjutnya bertanggung jawab kepada Dewan Nasional dan seterusnya.

Padahal, pengusaha asing mau berinvestasi di Batam karena proses birokrasi atau perijinan investasinya cepat dibanding daerah lain di Indonesia. Itu bisa terjadi karena Otorita Batam yang punya otoritas terhadap pengembangan investasi di Batam langsung bertanggung jawab kepada Presiden.

Selain itu, mekanisme yang mengatur hubungan kerja antara OB atau yang saat ini disebut BP Kawasan dengan Pemerintah Kota Batam sampai saat ini belum keluar aturannya dari pemerintah pusat. Padahal aturan itu, perlu bagi pengusaha agar jelas harus berhubungan dengan lembaga apa untuk urusan bisnisnya.

“Yang terjadi selama ini kebijakan OB atau BP Kawasan sering berbenturan dengan kebijakan pemerintah kota Batam, misalnya soal alokasi lahan,” kata dia.

Oleh karena itu, Nada berharap pemerintah segera menyelesaikan krisis institusi yang ada di Batam agar pengusaha bisa tenang dalam menjalankan usahanya di Batam.

Selain soal krisis institusi, masalah regulasi juga dipertanyakan pengusaha. Menurut Nada, aturan FTZ yang ada saat ini tidak memberi kemudahan bagi pengusaha dalam menjalankan bisnisnya di Batam, khususnya aturan mengenai masterlist.

Dengan permasalah itu, kata Nada sangat wajar bila pengusaha yang sudah investasi di Batam akan hengkang dan pengusaha yang berencana investasi di Batam juga menjadi ragu-ragu, karena faktor risiko yang cukup tinggi.

Padahal, kata dia, pemerintah telah mengeluarkan dana triliunan rupiah untuk membangun infrastruktur di Batam guna menjaring investasi agar masuk ke daerah itu. Namun, investasi pemerintah itu menjadi sia-sia dan terbengkalai karena status hukum yang kian tak menentu di Batam. (agus salim).

Senin, 26 Oktober 2009

Peluang dan Tantangan Investasi di FTZ BBK



Foto : Kawasan Nagoya Batam, Oktober 2009

Batam, Bintan dan Karimun di Provinsi Kepulauan Riaum(Kepri) telah ditetapkan pemerintah sebagai Kawasan Perdagangan dan Pelabuhan Bebas atau Free Trade Zone. Bersamaan dengan itu maka tidak ada bea masuk, pajak, cukai dan lainnya di BBK sehingga tariff menjadi nol persen untuk seluruh jenis barang yang masuk dan keluar melalui pelabuhan yang ada di BBK.

Lantas, apakah hal itu sudah cukup menarik bagi investor untuk menanamkan modalnya di BBK ?..

Tulisan ini, akan mengaji tantangan dan peluang yang dihadapi Investor dalam negeri dan luar negeri untuk berusaha di Batam.

Artikel ini bisa menjadi salah satu referensi atau bahan pertimbangan bagi investor sebelum mengambil keputusan untuk investasi, apakah akan menguntungkan atau merugikan.

………………terbit 10 November 2009

Promo Mandala

PT Budi Acid Tbk Ekspansi ke Gula Cair

BATAM – Perusahaan industri kimia yang memproduksi tepung tapioka, PT Budi Acid Jaya Tbk (BUDI) akan mengembangkan pabrik gula cairnya yang berada di Surabaya dan Lampung melalui penambahan mesin produksi senilai 10 miliar sampai 50 miliar rupiah sebelum akhir tahun ini, dengan harapan kontribusi pendapatan dari gula cair naik dari 15 persen menjadi 20 persen.

Sekretaris Perusahaan PT Budi Acid Jaya Tbk Mawarti Wongso mengatakan, perseroan akan mengembangkan pabrik gula cair atau glukosa yang berada di Surabaya Provinsi Jawa Timur dan Lampung dengan investasi sekitar 10 miliar sampai 50 miliar rupiah. Dananya akan diambil dari kas perusahaan dan sudah dianggarkan dalam belanja modal tahun ini.

“Potensi pendapatan dari bisnis gula cair cukup besar karena konsumsi gula nasional tinggi yakni sekitar 10 juta ton setiap tahunnya dan sebagian masih di impor,” katanya kepada Koran Jakarta, Senin (26/10).

Dengan dikembangkannya pabrik tersebut, kata dia, kapasitas produksi akan naik dari 100 ribu ton menjadi 130 ribu ton, dengan demikian kontribusi pendapatan dari gula cair diharapkan naik dari 15 persen menjadi 20 persen pada tahun ini dan untuk tahun tahun selanjutnya diharapkan bisa naik lebih tinggi lagi.

Menurut Mawarti, peningkatan pendapatan dari gula cair bisa dilakukan karena konsumsi gula nasional saat ini dan kedepannya relatif besar. Indonesia sendiri masih mengimpor gula cukup banyak karena kebutuhannya setiap tahun mencapai 10 juta ton, sehingga kebutuhan gula cair atau glukosa tetap tinggi.

Oleh karena itu, pengembangan pabrik glukosa perlu dilakukan, karena potensinya cukup besar dalam jangka panjang.

Itu juga didorong oleh rendahnya harga tepung tapioka saat ini, yang hanya 2.600 sampai 2.700 rupiah per kilogram, padahal harga tepung tapioka pada 2008 rata-rata diatas 3.200 rupiah per kilogram. Padahal, pendapatan perusahaan sangat tergantung dari penjualan Tepung Tapioka, karena kontribusinya lebih dari 60 persen terhadap pendapatan perusahaan.

Rendahnya harga tepung tapioka saat ini, kata dia menyebabkan pendapatanya pada semester satu tahun ini turun tipis yakni 1,1 persen, dari dari 801,9 miliar rupiah di semester satu 2008 menjadi 793 miliar rupiah di semester satu ini. Untungnya, perseroan masih mendapatkan laba bersih 87,9 miliar rupiah pada semester satu ini, naik 36,7 persen dibanding semester satu 2008 yang 64,3 miliar rupiah.

Peningkatan laba bersih itu, kata Mawarti disebabkan perusahaan mendorong volume penjualan sekitar 15-20 persen, sehingga meskipun nilai penjualannya turun tipis, namun perseroan masih bisa meningkatkan laba bersihnya.
Sampai akhir tahun ini, kata dia, perseroan berharap pendapatan dan laba bersihnya bisa sama dengan 2008. Harapan itu, lebih tinggi dari proyeksi yang dibuat di awal tahun yang memperkirakan pendapatan dan laba bersihnya turun 5-10 persen. Peningkatan kinerja itu disebabkan ditingkatkannya volume penjualan tepung tapiokda dan gula cair.

Sementara, jumlah produksi tepung tapioca saat ini sekitar 400 ribu sampai 500 ribu ton pertahun, yang dilakukan di 13 pabrik, 11 berlokasi di Provinsi Lampung, satu pabrik di Provinsi Jambi dan satu pabrik lagi di Solo. Kapasitas produksi dari 13 pabrik itu sekitar 795 ribu ton pertahun.

Terkait dengan pembangunan pabrik Bio Ethanol yang sedang dikerjakan, menurut Mawarti, akan ditunda penyelesaiannya dari rencana awal tahun ini sampai batas waktu yang belum ditentukan.

“Pembangunan pabrik bio ethanol ditunda sampai batas waktu yang belum ditentukan karena harga minyak dunia masih fluktuatif,” katanya. Perseroan berencana membangun pabrik Bio Ethanol dengan kapasitas produksi 75 ribu kilo liter pertahun, dengan nilai investasi 40 juta dollar AS atau 440 miliar rupiah dengan kurs 11.000 rupiah per dollar AS. Dana untuk pembangunan pabrik itu sudah tersedia dari hasil rights issue 2007 sebesar 16 juta dollar AS ditambah pinjaman bank dan kas internal.

Analis PT Trimegah Securities Steve Matuari dalam risetnya memproyeksikan pendapatan Budi Acid tahun ini sekitar 1,9 triliun rupiah lebih tinggi disbanding 2008 yang 1,6 triliun rupiah. Sedangkan laba bersih diprediksi melonjak menjadi 180 miliar rupiah, dari perkiraan realisasi 2008 sekitar 90 miliar rupiah. Itu disebabkan, konsumsi tepung tapioka untuk aneka makanan masih tetap tinggi pada tahun ini.

Untuk meningkatkan pendapatan tersebut, Budi Acid yang merupakan pemimpin pasar di industri tepung tapioka disarankan untuk merealisasikan pabrik Bio Ethanolnya pada 2010, karena proyek itu diramalkan bisa memberi kontribusi cukup signifikan yakni 27 persen dari total pendapatan. Selain itu, penyelesaian proyek biogas juga diperkirakan bisa menghemat pengeluaran perusahaan cukup signifikan. (gus).

Batam : Transformasi Berjalan Di tempat




Otorita Batam memasuki usia yang ke 38, Lembaga ini sekarang sudah berganti nama menjadi Badan Penguasa FTZ Batam seiring berubahnya status Batam menjadi kawasan perdagangan dan pelabuhan bebas atau FTZ yang diresmikan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono pada April 2009.

Menarik disimak perjalanan lembaga tersebut, karena itu tidak terlepas dari pembangunan Batam yang dulu hanya sebuah pulau kecil, kering dan tidak berpenghuni hingga menjadi kawasan industri yang banyak di huni perusahaan mancanegara.

Pembangunan Batam, mau tidak mau tidak terlepas dari Pemimpinnya, era Habibie, Batam dinilai dan faktanya sangat maju dimana banyak dibangun infrastruktur dan arus modal asing sangat deras masuk ke Batam. Berganti pemimpin dan saat ini Mustafa Widjaja, tidak banyak perubahan yang terjadi di Batam, kecuali hanya meneruskan pemimpin yang lama yaitu Ismeth Abdullah yang saat ini menjadi Gubernur Provinsi Kepri.

Sebagai kawasan yang diandalkan pemerintah pusat sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru di Sumatra yang rencananya bisa berkembang setaraf dengan Singapura, Batam mestinya dipimpin oleh Pemimpin sekelas Habibie yang punya orientasi kedepan yang jelas dan punya jaringan internasional yang dikenal baik dan disegani oleh pelaku bisnis global.

Selain itu, regulasi juga mesti berpihak, karena bila regulasi atau birokrasi karut marut dan menghambat investor maka kawasan ini akan ditingggalkan.

Masalahnya adalah, saat ini banyak kawasan di dunia terutam di negara tetangga juga memiliki kawasan yang sama seperti Batam, misalnya di Vietnam, India, Cina, Malaysia dan lainnya, sehingga Batam harus mampu bersaing dengan kawasan sejenis di negara tersebut.

Sayangnya, sampai saat ini regulasi dan kepemimpinan tidak mendukung, sehingga Batam kalau dilihat sejak lima atau sepuluh tahun lalu, sampai saat ini tidak mengalami perubahan signifikan, yang ada malah beberap investor asing hengkang karena hambatan birokrasi.

Sebut saja misalnya, peraturan soal FTZ yang masih menjadi polemic antar pengusaha dan pemerintah.

Mestinya, sebagai kawasan unggulan yang memang faktanya unggul disbanding dengan daerah lain di Indonesia, Batam mestinya bisa maju lebih kencang, seperti rencana Habibie yang bermimpi Batam bisa sama dengan Singapura, sayangnya dengan Johor saja masih kalah.

Lalu apa yang mesti dilakukan ?..
Agaknya, pemerintah perlu mengevaluasi regulasi yang ada saat ini dengan memperhatikan kondisi yang ada di negara tetangga. Selain itu, Pemimpin atau Penguasa otoritas Batam utamnya ketua BP FTZ Batam harus bekerjasam dengan Walikota Batam harus punya strategi yang jelas dengan tolok ukur dan waktu pencapaian yang sudah ditentukan.

Bila gagal, maka gampang saja, pemerintah tinggal mencari orang yang mampu dan pantas untuk menjalankan strategi tersebut. Masih banyak putra putri Indonesia yang punya motivasi dan pikiran cemerlang untuk membangun kawasan yang punya keunggulan sepertihalnya Batam.

Proyek Pelabuhan Kargo Batu Ampar di Evaluasi



BATAM – Otorita Batam atau Badan Penguasaan (BP) FTZ Batam akan mengevaluasi rencana proyek pengembangan pelabuhan Batu Ampar, disebabkan investor asal Perancis Compagnie Maritime d Affretement Copagnie Generale Maritime (CMA-CGM) yang telah memenangkan tender tersebut belum juga memulai pembangunan hingga saat ini.

Ketua BP FTZ Batam Mustafa Widjaja mengatakan, pihaknya sedang mengevaluasi beberapa proyek yang tertunda diantaranya proyek pengembangan Pelabuhan Batu Ampar. Evaluasi akan dilakukan sampai Desember ini, selanjutnya bila CMA-CGM tidak dapat meneruskan proyek tersebut, maka akan dilakukan tender ulang.

“Saat ini kita sedang evaluasi proyek pengembangan pelabuhan Batu Ampar dan diharapkan selesai pada Desember ini, selanjutnya bila hasil evaluasi ternyata pihak CMA-CGM tidak bisa membangun maka akan dilakukan tender ulang,” katanya, Senin (26/10).

Menurut Mustafa, pengembangan pelabuhan Batu Ampar perlu segera dilakukan karena kapasitas pelabuhan yang ada saat ini sangat terbatas, sehingga bila tidak dikembagkan dikuatirkan bakal mengganggu arus distribusi barang di pelabuhan sehingga investasi di Batam akan terganggu.

Terlebih, kata dia, setelah Batam dijadikan kawasan pelabuhan dan perdagangan bebas atau FTZ (Free Trade Zone) sejak April 2009 oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, maka arus investasi yang masuk diperkirakan bakal marak, oleh karena itu ketersediaan infrastruktur mutak diperlukan.

CMA-CGM mestinya sudah melakukan pembangunan sejak 2007, ketika perusahaan itu memenangkan tender. Namun, resesi global akibat dampak krisis keuangan menyebabkan perusahaan tersebut menunda pembangunan, dan sampai saat ini belum dikerjakn.

Perusahaan asal Perancis tersebut, rencananya akan memperluas panjang dermaga pelabuhan Batu Ampar dari 500 meter menjadi 1.000 meter sehingga pelabuhan tersebut bisa menampung 1,2 juta sampai 2,0 juta teus kontainer. Untuk itu, investasi yang akan ditanamkan sekitar empat triliun rupiah.

Direktur Operasional dan Perencanaan PT Persero Batam M Amin mengatakan, BP FTZ Batam mestinya sudah sejak lama melakukan tender ulang proyek Pelabuhan Batu Ampar tersebut, karena perusahaan asal Perancis sudah lalai membangun pelabuhan tersebut, namun sampai saat ini belum juga dilakukan tender ulang.

PT Perseroan Batam sendiri, kata dia rencananya akan ikut dalam tender bila BP FTZ Batam berencana membuka kembali tendernya.

Jalan Tol
Mustafa Widjaja mengatakan, BP FTZ Batam dalam beberapa tahun kedepan akan mengkonsentrasikan pembangunannya pada lima hal, pertama, pembangunan infrastruktur, untuk itu rencananya akan dibangun jalan tol dari Bandara Hang Nadim ke Kawasan Industri Batu Ampar dan Muka Kuning. Proyek jalan tol itu akan mengikutsertakn investor dan rencananya akan di tawarkan atau ditenderkan pada tahun depan.

“Berdasarkan hasil uji kelayakan, maka proyek jalan tol di Batam layak dan cukup menguntungkan sehingga kami berani menawarkannya ke swasta,” kata dia. Selain itu, BP FTZ Batam juga akan membangun gedung reverasi pesawat di Bandar Udara Hang Nadim.

Kedua, Mempertahnkan keberadaan logistic vital di Batam seperti air, listrik, minyak dan gas. Ketiga, Menyiapkan Sumber Daya Manusia yang handal yang menguasai teknologi informasi untuk menciptakan efisiensi.

Keempat, kata dia, meningkatkan dan memanfatkan posisi geografis yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal. Kelima, Menjaga insentif yang dimiliki Batam serta mempercepat implementasinya.

Untuk itu, kata dia, pekan ini tim dari BP FTZ Batam akan melakukan silaturahmi ke jajaran menteri terkait yang berhubungan dengan FTZ Batam agar peraturan yang ada tidak menghambat jalannya FTZ. Salah satu menteri yang akan dikunjungi adalah Menteri Kehutanan, sebab status lahan di Rempang dan Galang perlu segera di tuntaskan agar bisa di konversi menjadi lahan komersil dari statusnya saat ini berupa hutan buru.

Hal itu, kata Mustafa perlu dilakukan mengingat kondisi lahan di Batam saat ini semakin kritis sehingga perlu dicari lokasi baru. (agus salim).


Minggu, 25 Oktober 2009

Profil Direktur PT Persero Batam



Mengantarkan BUMN Sakit Menjadi Untung
“Berani Ambil Risiko”

Keberaniannya mengambil risiko, patuh pada komitmen dan tegas pada karyawan telah mengantarkan PT Persero Batam yang tadinya sakit karena di dera kerugian terus menerus akhirnya untung sejak 2006 sampai sekarang. Pria yang menjabat sebagai Direktur Operasi dan Perencanaan di BUMN tersebut, merasa sudah menjadi kewajibannya sebagai anak negeri, untuk mengantarkan perusahaan negara untung.

Moehammad Amin yang akrab di sapa Pak Amin di lingkungan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) PT Pengusahaan Daerah Industri Pulau Batam atau PT PerseroBatam, tersipu ketika dianggap sukses mengantarkan perusahaan negara itu memperoleh keuntungan pada 2006, setelah sebelumnya terus merugi.

Amin bercerita, mulai bergabung di PT Persero Batam sebagai Direktur Operasi dan Perencanaan pada Juni 2004, awalnya dia menjabat Direktur Utama di PT Ujung Lima (Persero)

“Awalnya saya cukup pesimistis bisa membawa perusahaan yang sakit karena rugi ini menjadi untung,” katanya, ketika berbincang dengan Koran Jakarta di ruang kerjanya, Kamis (11/6).

Betapa tidak, pria kelahiran Metro Provinsi Lampung 45 tahun lalu itu menilai, satu satunya perusahaan Negara yang berkantor pusat di Batam yang awalnya hanya mengurusi kepentingan bisnis pemerintah di Batam tersebut dianggap terlalu gemuk tidak fokus dan memiliki karyawan terlalu banyak namun pekerjaan yang dilakukan terlalu sedikit.

Terlebih karyawan yang ada saat itu, sangat terlena dengan kebesaran nama PT Persero Batam pada waktu lampau, padahal saat ini kondisinya sudah berubah.

PT Persero Batam, yang didirikan pemerintah bersamaan dengan dirikannya Otorita Batam pada 1971, dulunya dianggap sebagai saudara kembar Otorita Batam, karena Direktur Utama PT Persero Batam juga Ketua Otorita Batam.

Sehingga tak sulit bagi perusahaan untuk mendapat banyak order dari perusahaan yang ada di Batam, terlebih saat itu sekitar 1970-1980-an, tidak banyak perusahaan sejenis yang ada di Batam di bidang logistik.

“Namun, kondisi saat ini sudah berubah drastis, dan parahnya lagi manajemen yang ada tidak dapat mengikutinya, sehingga sejak 1990-an sampai 2005 perusahaan rugi terus,” katanya.

Oleh karena itu, Pria pengagum mantan Presiden Habibie itu menerapkan beberapa langkah untuk mengantarkan perusahaan jadi untung.

“Langkah pertama yang saya lakukan adalah merubah paradigma seluruh karyawan bahwa situasi saat ini berbeda dengan jaman dahulu kala, ketika Persero Batam masih mengalami kejayaan,” katanya.

Itu tidak mudah, kata Amin, karena sebagian besar karyawan PT Persero Batam sudah berusia senja termasuk dengan Direksi yang ada, kemudian karyawan yang ada juga sudah terlalu lama terlena sehingga butuh waktu untuk membangunkannya kembali.

Untuk itu, Pria yang juga beristrikan politikus anggota DPR RI Reni Marlinawati itu mengambil sikap tegas.

“Saya katakan ke karyawan, bagi yang ingin ikut satu bus dengan saya maka harus ikut aturan yang saya buat, dan bagi yang tidak setuju maka boleh mencari bus lain,” kata dia.

Maka, pada tahun pertama Amin memangkas karyawannya dan saat ini hampir separuh karyawannya di rumahkan. Itu tidak mudah, karena butuh biaya besar dan pihaknya juga mesti memikirkan karyawan dan keluarganya yang perekonomiannya tergantung dari bekerjadi PT Persero Batam. Untuk itu Amin memberi uang ganti rugi yang cukup untuk membuka usaha bagi karyawan yang dirumahkan.

Selanjutnya, karyawan yang ada di tingkatkan profesionalitanya dengan mengikuti pelatihan dan memberi target dalam pekerjaan.

Untuk meningkatkan semangat juang karyawannya, Alumnus organisasi PB HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) itu memberi penghargaan dan hukuman bagi karyawan yang berhasil dan gagal. Akibatnya, banyak karyawannya yang mulai disiplin dan menampilkan hasil kerja yang cukup mengesankan.

“Itu saya lakukan tidak mudah, karena di dalam manajemen sendiri, saya juga mendapat banyak rintangan dan kecaman, namun saya tetap berjalan dan berani mengambil risiko apapun untuk kemajuan perusahaan,” katanya.

Setelah karyawannya berhasil dibina, Amin lalu melakukan restrukturisasi perusahaan. Dia mulai menentukan fokus bisnis dan melikuidasi bidang usaha yang tidak sesuai dengan bisnis utama.

PT Persero Batam, akhirnya diputuskan hanya fokus pada bidang usaha logistik yakni bongkar muat barang, pergudangan dan transportasi. Sedangkan bisnis perhotelan, pertanian dan lainnya di likuidasi.

Langkah yang ditempuh Amin, ternyata tidak sia-sia. Bila diawal tahun (2004) keberadaannya perusahaan mengalami kerugian hingga 4,8 miliar rupiah, begitupun dengan tahun kedua dengan kerugian tiga miliar rupiah, maka di tahun ketiga yakni 2006 sudah dihasilkan untung yang cukup signifikan yakni 1,028 miliar rupiah, dan tahun 2008 dicetak untung 2,7 miliar rupiah, dan tahun 2009 ditargetkan untung 2,8 miliar rupiah.

Tidak puas dengan keuntungan sebesar itu, Pria yang terlihat selalu bersemangat itu menargetkan pertumbuhan laba hingga 300 persen pada 2011. Untuk itu dia akan mendirikan anak usaha yang akan menjalani bisnis forwarding atau angkutan secara terintegrasi.

Alumnus Universitas Krisnadwipayanan Jakarta itu, memang patut diacungi jempol untuk semangatnya membawa perusahaan menjadi untung. Namun, dia memiliki keterbatasan waktu untuk mewujudkan.

Sebagai manusia biasa, Dia juga memiliki keluarga yang kebetulan tinggal jauh yakni di Jakarta sementara pekerjaannya di Batam, nmun itu tidak menghalangi seluruh pekerjaanya.

“Saya mengutamakan kualitas pertemuan dengan anak dan istri sehingg bila waktu libur selalu digunakan untuk berlibur,” katanya. Tempat libur paling disenangi adalah daerah pegunungan, dan tempat yang paling sering dikunjungi adalah Sukabumi karena sekaligus silaturahmi dengan keluarga istrinya

Meski sibuk, Pria berkacamata itu juga tidak lupa untuk menjaga kebugaran tubuhnya, untuk itu tiap akhir pekan dia selalu bermain golf dan jogging, dia juga berusaha menjalani hidup sehat dengan tidak merokok dan tidak mengkonsumsi minuman beralkohol.

Dalam menjalani karirnya di perusahaan pemerintah, Amin punya obsesi untuk selalu memberi yang terbaik bagi perusahaan dan berusaha untuk mengantarkannya mendapatkan keuntungan.

Oleh karena itu, ketika dihadapkan pada satu keputusan untuk mengambil tindakan atau tidak, Amin memilih untuk mengambil tindakan, karena berbuat atau tidak berbuat sama sama punya risiko.

“Mangkanya saya merasa aneh, bila ada direksi BUMN yang pekerjaannya diam saja tidak berani berbuat atau mengambil keputusan karena takut ini atau takut itu, karena tindakan diamnya itu akan merugikan perusahaan,” katanya. (agus salim).

Green Festival 2009 Digelar



Bukti Komitmen Green Initiative Forum dalam Terus Membangun Kesadaran dan Melibatkan Keterlibatan Masyarakat akan Isu Pemanasan Global


JAKARTA - Green Initiative Forum (GIF), sebuah kemitraan dari tujuh pihak yang sangat peduli terhadap isu pemanasan global, terdiri dari PT. Unilever Indonesia Tbk., Pertamina, Panasonic, Sinar Mas, Kompas, MetroTV, dan FeMale Radio, akan menggelar kembali Green Festival pada 5 dan 6 Desember 2009 bertempat di Parkir Timur Senayan, Jakarta. Penyelenggaraan acara ini melanjutkan kesuksesan penyelenggaraan acara yang sama tahun lalu, serta melanjutkan kesungguhan GIF dalam membangun kesadaran dan meningkatkan partisipasi masyarakat dalam mengatasi dampak pemanasan global.

Dikemas sebagai acara yang edukatif dan informatif, namun masih mengandung unsur hiburan karena menggunakan cara penyampaian yang mudah dipahami oleh segenap masyarakat pada umumnya. Green Festival diharapkan mendapat dukungan dari khalayak sasaran, khususnya generasi muda, sebagai generasi penerus. Dalam penyelenggaraan tahun ini, Green Festival didahului dengan pre-event berupa Green Competition, yaitu road-show ke sekolah-sekolah untuk men-sosialisasi-kan isu-isu lingkungan hidup termasuk isu pemanasan global dan mengadakan kompetisi antar sekolah tentang pengetahuan seputar pemanasan global. Para siswa juga dilibatkan dalam lomba kreatifitas tentang penanganan masalah pemanasan global.

Seperti dalam Green Festival 2008, berbagai display dan acara telah dikemas untuk membuat masyarakat semakin memahami mengenai isu-isu pemanasan global dan langkah-langkah konkrit seperti apa yang bisa mereka lakukan untuk mengantisipasi dan mencegah pemanasan global.

Pada penyelenggaraan Green Festival tahun lalu, sebanyak 46.000 pengunjung hadir dan menikmati berbagai suguhan acara dan display-display interaktif dan menarik yang ada dalam festival. Tahun ini, panitia memperkirakan lebih banyak keluarga akan hadir.

Hari ini perwakilan dari tujuh pihak yang tergabung dalam GIF yaitu: Josef Bataona (Direktur Human Resource PT Unilever Indonesia Tbk.), Basuki Trikora Putra (VP Communications PT Pertamina), Mr. Ichiro Suganuma (President Director PT Panasonic Gobel Indonesia), Gandi Sulistiyanto (Managing Director Sinar Mas), Rikard Bagun (Pemimpin Harian Redaksi Kompas), Suryopratomo (Direktur Pemberitaan Metro TV), serta Hanny Soema Di Pradja (Chief Executive Officer – PT Jaringan Delta FeMale Indonesia) telah menandatangani Kesepakatan Bersama untuk terus menggiatkan penyebaran informasi dan menularkan kesadaran mengenai isu-isu lingkungan hidup, terutama pemanasan global, salah satunya dengan penyelenggaraan Green Festival 2009 ini.(rilis)

Citibank Raih Predikat ‘Penerbit Kartu Kredit Terbaik



Citibank juga memboyong penghargaan ‘Kartu Paling Terpercaya’ dan ‘Penerbit Kartu Kredit Premium
Terbaik’ di Asia Tenggara


JAKARTA - Citibank terpilih sebagai Penerbit Kartu Kredit Terbaik, Penerbit Kartu Paling Terpercaya dan Kartu Kredit Premium Terbaik di Asia Tenggara, sebagai bagian dari Lafferty Asia Payment Cards Awards 2009. Penyelenggaraan penghargaan Lafferty ini merupakan yang pertama kalinya di kawasan Asia Tenggara. Selain independen, penghargaan ini juga didasarkan pada jajak pendapat 5.000 konsumen yang memegang dan menggunakan kartu pembayaran di Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura,
dan Thailand.

Selain itu, Citibank juga meraih penghargaan di Indonesia untuk Kartu Kredit Premium Terbaik dan Inovasi Produk Terbaik untuk kartu kredit CitiCash Back. Di Malaysia Citi meraih predikat Penerbit Kartu Terbaik, Program Rewards Terbaik untuk Citibank World Privileges, dan Inovasi Produk Terbaik untuk kartu kredit Citibank-Shell. Di Filipina, meraih Produk Baru Terbaik untuk kartu kredit Citibank- Rustan, sedangkan di Singapura sebagai Produk Baru Terbaik untuk kartu kredit Citibank Dividend
Signature. Shirish Apte, CEO Citi Asia Pasifik, yang menerima penghargaan tersebut mengatakan

“Kami sangat bahagia atas pengakuan konsumen terhadap komitmen Citi dalam memenuhi kebutuhan spesifik nasabah, menyajikan pengalaman unik serta perlindungan ketika mereka menggunakan kartu Citibank. Para konsumen juga memberikan pengakuan atas teknologi mutakhir yang kami gunakan
untuk meningkatkan interaksi mereka dengan kami. Tanggapan dari nasabah akan memicu kami untuk terus berupaya memenuhi kebutuhan dan menjadi kartu pilihan mereka di wilayah ini”, kata dia.

Jajak pendapat konsumen ini menggunakan metodologi riset online di mana para responden diminta untuk menilai produk kartu yang dikeluarkan di negara mereka, kartu yang mereka miliki dan produkproduk yang mereka ketahui. Penghargaan regional ini didasarkan pada rata-rata yang diambil dari penilaian individual konsumen di setiap negara. Menanggapi penghargaan ini, Michael Lafferty, Chairman Lafferty Group mengatakan,

“Kemenangan Citibank secara regional adalah hasil dari tingginya peringkat Citi di setiap negara, sebab penghargaan regional ini didasarkan pada penilaian rata-rata di tiap negara. Citibank jelas merupakan penerbit kartu dengan positioning terbaik di Asia Tenggara yang menawarkan produk kartu yang lengkap dan tersegmentasi dengan baik.” Kata Shirish.

Surath Chatterjee, Citi Asia Pacific Head for Cards menambahkan, “Kartu Terbaik dan Penerbit Kartu Paling Terpercaya adalah penghargaan yang sangat berarti bagi kami. Penghargaan ini diberikan pada saat situasi ekonomi tersulit yang pernah kami hadapi di Asia. Citi memang kartu kredit pilihan untuk wilayah ini. Prestasi ini, baik di tingkat regional maupun di tiap negara, adalah sebuah penghargaan bagi setiap anggota dari tim kami, yang senantiasa melakukan inovasi untuk memberikan bebagai jenis produk kartu berkualitas yang tak tertandingi kepada para nasabah. Memenangkan jajak pendapat bergengsi ini adalah dukungan yang penting bagi kami serta
merupakan dan wujud kepercayaan dari konsumen terhadap merk Citibank.(rilis)

PT Panoram Tours and Travel Gelar Mega Sale

Gubernur Kepri Promosikan FTZ BBK


Meski baru berumur lima tahun, pertumbuhan ekonomi Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) melesat meninggalkan daerah lain di Indonesia. Itu tidak terlepas dari posisinya yang sangat strategis berhadapan langsung dengan selat malaka dan laut Cina Selatan serta hanya berjarak tempuh sekitar 45 menit ke Singapura yang merupakan salah satu pusat perdagangan internasional dan hanya satu jam ke Malaysia.

Pertumbuhan ekonomi Kepri juga tidak terlepas dari peran kota Batam yang sudah sejak lama dikenal sebagai kota industri dan pariwisata yang membawa pengaruh positif bagi daerah di sekitarnya, sehingga pertumbuhan provinsi Kepri setiap tahunnya selalu diatas rata rata nasional yakni lebih dari 7,0 persen.

Gubernur Provinsi Kepri Ismeth Abdullah yang juga mantan Ketua Otorita Batam optimistis pertumbuhan ekonomi Kepri bisa lebih tinggi lagi dan daerah itu juga bisa menjadi andalan nasional, menyusul telah diberlakukannya tiga daerah di Kepri yakni Batam, Bintan dan Karimun (BBK) sebagai kawasan perdagangan dan pelabuhan bebas atau Free Trade Zone (FTZ) sejak April 2009 lalu. Untuk mengetahui, apa langkah dan program prioritas pemerintah daerah, berikut petikan wawancara bersama Ismeth Abdullah pada Jumat (23/10) usai penandatangan MoU antara Pemprov Kepri dengan Media Cetak Jepang yakni The Nikkan Kongo Shimbun tentang rencana promosi dan publikasi FTZ BBK di harian tersebut.


Bisa disebutkan potensi ekonomi Kepri ?..

Provinsi Kepri memiliki potensi yang cukup strategis dari kondisi geografis dan kekayaan alamnya. Batam, Bintan dan Karimun (BBK) merupakan daerah yang sudah ditetapkan nasional sebagai kawasan industri, perdagangan dan pariwisata seiring telah berlakunya FTZ di kawasan itu. Sementara itu, Kabupaten Natuna dan Anambas sangat kaya dengan hasil minyak dan gas bahkan dikabarkan terbesar di Indonesia. Lalu Kabupaten Lingga juga kaya dengan potensi perikanan dan pertanian.

Soal FTZ BBK, apa pengaruhnya terhadap pertumbuhan ekonomi Kepri ?..

Jelas sangat berpengaruh, karena kawasan itu akan menopang pertumbuhan ekonomi Kepri. Untuk itu beberapa langkah akan kami lakukan untuk memancing investor asing dan dalam negeri untuk membuka usaha di kawasan tersebut. Sejalah dengan itu, kami juga akan melengkapi berbagai infrastruktur pendukung termasuk listrik yang kondisinya saat ini masih deficit khususnya di Bintan dan Karimun sedangkan Batam berlebih.

Salah satu langkahnya apa ?..

Kegiatan promosi akan kami gencarkan ke berbagai negara maju, seperti yang saat ini kami lakukan dengan media cetak atau harian dari Jepang yakni The Nikkan Kongo Shimbun.

Kami melakukan kerjasama dengan Harian Jepang tersebut untuk promosi FTZ BBK dengan anggaran yang dialokasikan sekitar 300 juta rupiah. Harapannya, bisa memancancing banyak investor dari Jepang. Saat ini investor Jepang juga sudah banyak yang investasi di BBK, namun masih kurang disbanding dengan investor dari Singapura. Oleh karena itu, kerjasama dalam bentuk promosi di harian Jepang tersebut menjadi penting untuk mendorong arus masuknya investor asing ke BBK khusunsya dan Kepri umumnya.

Selain itu, Kepri juga memiliki kantor perwakilan di Osaka Jepang yang berfungsi untuk melayani pertanyaan pertanyaan soal iklim investasi dan regulasi yang ada di Kepri.

Harapannya terhadap Pemerintah Pusat ?...

Kami cukup bersyukur karena telah diberinya status FTZ di BBK, namun aturannya saat ini dinilai sejumlah pengusaha masih rumit sehingga akan ada revisi aturan FTZ dalam waktu dekat.

Selain itu, kondisi listrik di beberapa daerah di Kepri juga sudah menguatirkan dan peran dari pemerintah pusat serta PT PLN sangat diharapkan, karena tanpa listrik orang tidak bisa berinvestasi. (gus).

Batam Butuh 36 Ribu Tenaga Kerja Baru


BATAM – Pulau Batam sebagai kota industri yang juga telah ditetapkan sebagai Kawasan Perdagangan dan Pelabuhan Bebas atau Free Trade Zone pada April 2009, membutuhkan sekitar 36 ribu tenaga kerja baru untuk dipekerjakan di berbagai perusahaan elektronik, pertambangan, galangan kapal dan pariwisata.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Batam yang juga Direktur Utama PT Satnusa Persada Tbk Abidin Hasibuan mengatakan, Apindo Batam telah melakukan survei tentang kebutuhan tenaga kerja ke seluruh perusahaan yang ada di Batam beberapa bulan lalu. Dari survei tersebut diketahui Batam membutuhkan sekitar 36 ribu tenaga kerja baru untuk dipekerjakan di berbagai sector antara lain elektronik, pertambangan, galangan kapal dan pariwisata.

“Batam saat ini kekurangan sekitar 36 ribu tenaga kerja, oleh karena itu Pemerintah Kota mestinya tidak memperketat masuknya pendatang baru ke Batam,” kata dia.

Jumlah itu, kata dia merupakan kebutuhan tenaga kerja sampai akhir tahun 2009, dan akan meningkat pada tahun depan bila beberapa rencana investasi yang sedang dijajaki beberapa investor dari beberapa negara seperti Rusia, China, Korea dan Jepang direalisasikan.

Sebagai catatan, kata Abidin, PT Satnusa Persada Tbk saja saat ini membutuhkan tenaga kerja sekitar 600 orang untuk bagian operator industri perakitan elektronik dengan kualifikasi pendidikan minimal SMA. Sementara itu, PT Philips membutuhkan sekitar 6.000 pekerja juga untuk operator industri elektronik.

Oleh karena itu, kata dia, Apindo menyesalkan sikap Pemerintah Kota Batam yang memperketat masuknya pendatang baru dari berbagai daerah di Indonesia ke Batam paska lebaran. Pasalnya, kebijakan tersebut justru memperkecil peluang perusahaan yang ada di Batam untuk mendapatkan tenaga kerja baru yang sedang dibutuhkan pada saat ini.

Abidin juga menilai hal itu tidak sesuai dengan semangat nasionalisme kebangsaan, karena pada dasarnya setiap warga negara Indonesia punya hak untuk bekerja di daerah manapun yang masih dalam wilayah Indonesia.

Rencana Investasi



Kepala Biro Pemasaran dan Humas Otorita Batam Rustam Hutapea mengatakan, kebutuhan tenaga kerja di Batam akan bergerak bersamaan dengan pertumbuhan industri yang ada. Saat ini beberapa investor asing sedang menjajaki rencana investasi di Batam di berbagai sektor antara lain, pariwisata, industri elektronik dan galangan kapal.

Salah satu investor yang bakal merealisasikan rencana investasi itu adalah investor dari Rusia, untuk itu pada Bulan Oktober ini juga akan ditandangani perjanjian kerja sama investasi antara Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Rusia di Jakarta.

Selain di Batam, sejumlah investor asing juga akan menanamkan investasinya di kawasan perdagangan dan pelabuhan bebas Bintan dan Karimun, antara lain dari Korea Selatan.

Kepala Badan Pengusahaan FTZ Bintan Mardhiah mengatakan, rombongan investor asal Korea Selatan telah mengunjungi pulau Bintan Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) pada Selasa (6/10) untuk menjajaki rencana investasi. Rombongan asal Korea Selatan itu datang ke Bintan dengan Ketua tim Irena Kim yang membawa sejumlah pimpinan perusahaan dari Korea Selatan.

BP FTZ Bintan, kata dia sesuai dengan potensi industri yang ada di Bintan, telah menawarkan beberapa bidang usaha yang bisa dijalani pengusaha Korea tersebut, antara lain industri maritim, resort atau sector pariwisata dan industri ringan.

Untuk itu, BP FTZ Bintan telah menyiapkan lahan sekitar 62 ribu hectare di empat kawasan yakni Bintan Utara seluas 58,8 ribu hectare, di Bintan Timur seluas 812,6 hektare, Galang Batang seluas 1,8 ribu hectare dan di Pulau Anak Lobam seluas 678,20 hektare. (gus).

PT Katarina Utama Tbk Gelar Konferensi Pers



PT Katarina Utama Tbk, yakni perusahaan Jasa pemasangan, pengujian dan uji kelayakan telekomunikasi akan melakukan konferensi pers sekaligus Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa pada :
Hari : Rabu
Tanggal : 26 Oktober 2009
Tempat : Balai Kartini Lantai 1 Anggrek Room
Jalan Jenderal Gatot Subroto, Jakarta Selatan.

PT Satunusa Persada Tbk Kurangi Jam Kerja


Tabel : Kinerja PT Sat Nusapersada Tbk, Semester satu (Januari-Juni) 2009

Pendapatan
Sm 1-2008 = 908.846.734.541
Sm 1-2009 = 885.024.312.137

Laba (Rugi) Bersih
Sm 1-2008 = 9.707.652.703
Sm 1-2009 = (23.724.621.836)

Sumber : Bursa Efek Indonesia
Satuan Rupiah


BATAM - Perusahaan perakitan elektronik PT Sat Nusapersada Tbk diketahui telah mengurangi jam kerja karyawannya dari tujuh hari kerja menjadi lima hari kerja dalam satu minggu disebabkan order turun dipengaruhi resesi global. Itu dilakukan untuk menghindari kerugian yang semakin besar pada tahun ini, sebab pada semester satu saja perseroan telah mengalami rugi bersih 23,7 miliar rupiah.

Direktur Utama Sat Nusa Abidin Hasibuan mengatakan, kerugian yang terjadi pada tahun ini tidak bisa dihindari sebagai dampak dari resesi global yang menyebabkan order dari sejumlah pelanggan utama mengalami penurunan karena permintaan barang elektronik secara global juga turun.

“Untuk menghindari kerugian yang lebih tajam akibat turunnya order kami terpaksa mengurani jam kerja menjadi lima hari kerja dalam satu minggu,” katanya.

Oleh karena itu, kata dia, perseroan melakukan beberapa strategi agar kerugian yang terjadi pada tahun ini tidak terlalu besar. Strateginya antara lain, mengurangi jam kerja karyawan dari tujuh hari selama satu minggu menjadi hanya lima hari selama satu minggu. Langkah itu juga dilakukan untuk menghindari pemutusan hubungan kerja atau PHK.

Perseroan juga melakukan pengurangan jumlah gaji yang diterima Direksi serta mengurangi biaya entertainment secara signifikan, sayangnya dia tidak menyebut secara rinci jumlah pengurangannya.

Strategi lain yang dilakukan adalah memperluas jaringan pemasaran dan mempertahankan daya saing produk, melakukan cost down atau pemangkasan terhadap biaya-biaya yang tidak memberikan kontribusi terhadap perusahaan dengan mempertimbangkan kesempatan ekspansi ditengah krisis, efisiensi dalam proses produksi, mengurangi biaya lembur, menargetkan potongan harga dari semua vendor dan memperluas basis vendor dalam rangka pencarian bahan baku yang berharga murah dan mengimplementasikan anggaran secara ketat dalam menghadapi dampak negatif profitabilitas.

“Dalam kondisi saat ini kami harus melakukan berbagai cara untuk menjaga kondisi keuangan agar tetap terjaga, caranya dengan efisiensi,” kata dia.

Dari laporan keuangan disebutkan, pada semester satu ini (Januari-Juni 2009) perseroan membukukan pendapatan 885 miliar rupiah, turun 2,6 persen dibanding periode sama 2008 yang mencapai 908,8 miliar rupiah. Sementara itu, pada semester satu ini juga perseroan mengalami rugi bersih 23,7 miliar rupiah padahal diperiode yang sama 2008 perseroan membukukan laba bersih 9,7 miliar rupiah.

Ekspansi Usaha

Abidin mengatakan, meskipun kinerja usahanya pada tahun ini tidak begitu baik akibat resesi global, namun pihaknya optimistis tahun depan akan lebih baik karena dampak resesi global sudah berkurang sehingga konsumsi produk elektronik diharapkan naik kembali. Dengan demikian, order untuk produk software dan perakitan produk elektronik dari pelanggannya bisa naik kembali.

Untuk itu, pihaknya telah merencanakan sejumlah investasi untuk pengembangan usahanya, sayangnya dia tidak menyebut rencana pengembangan investasi yang akan dilakukan.

Untuk itu, dia berharap pemerintah bisa menciptakan iklim yang lebih kondusif di Batam dengan cara memangkas birokrasi dan menegakan hukum dengan baik, serta memberantas pungutan liar di daerah. Selain itu, Peraturan Daerah (perda) yang menghambat investasi juga harus dihapuskan.

Kepala Riset Asia Financial Network (AFN) Rowena Suryobroto mengatakan, industri elektronik termasuk industri pendukungnya seperti jasa perakitan elektronik pada semester kedua tahun ini diperkir akan masih tertekan karena permintaan produk elektronik diperkirakan masih lemah akibat dampak krisis keuangan global.

Permintaan produk elektronik, kata dia baru naik pada tahun depan seiring dengan membaiknya industri manufaktur.

“2010, industri elektronik bisa lebih baik dibanding 2009 disebabkan mulai membaiknya industri manufaktur,” katanya, Senin (1/9).

Meski demikian, kata dia pada semester satu 2010 permintaan produk elektronik diperkirakan masih flat, kondisi baru rebound dan membaik pada semester dua 2010 karena daya beli masyarakat sudah mulai membaik.

Oleh karena itu, Rowena menyarankan perusahaan elektronik tetap melanjutkan ekspansi usahanya yang sudah direncanakan, untuk mengantisipasi lonjakan permintaan di 2010. (agus salim).

PT Citra Tubindo Tbk Incar Kontrak USD90 Juta


Keterangan : Public Expose PT Citra Tubindo Tbk di Kantor perusahaan Kabil, Senin (5/10).


BATAM - Perusahaan pipa baja PT Citra Tubindo Tbk diketahui sedang mengincar proyek pengadaan pipa baja dari Conoco Philips dan TOTAL E & P Indonesie dengan nilai kontrak sekitar 90 juta dollar AS. Perseroan masih mengantongi kontrak senilai 93,1 juta dollar AS sampai Desember ini, sehingga pendapatan sepanjang 2009 diprediksi 229 juta dollar AS.

Direktur Pengembangan Usaha Citra Tubindo Herman Hermanto mengatakan, perseroan saat ini sedang mengikuti ternder pengadaan pipa baja dari beberapa perusahaan antara lain dari Conoco Philips untuk pembangunan jalur distribusi Minyak dan gas (Migas) di Cina Selatan dengan nilai proyek ditaksir 25 juta sampai 30 juta dollar AS dan dari TOTAL E & P Indonesie dengan nilai kontrak sekitar 50 juta sampai 60 juta dollar AS. Sehingga total kontrak yang berpotensi bisa diterima perseroan sekitar 90 juta dollar AS atau 900 miliar rupiah dengan kurs 10.000 rupiah per dollar AS.

“Kami sedang mengincar kontrak dengan nilai sekitar 90 juta dollar AS dari TOTAL dan Conoco Philips untuk pengadaan pasokan tahun depan, sehingga kinerja 2010 cukup optimistis,” katanya usai Public Expose di kantornya, Senin (5/10).

Tender tersebut, kata dia diperkirakan bisa diketahui pemenangnya sebelum akhir tahun ini, sehingga pengadaanya akan dilakukan pada tahun depan.

Sementara itu, perseroan masih mengantongi kontrak sekitar 93,1 juta dollar AS sampai akhir tahun ini, yang berasal dari penjualan ekspor sebesar 51,2 juta dollar AS dan penjualan domestik 41,9 juta dollar AS.

Dengan demikian, kata Herman, pihaknya cukup yakin pendapatannya sampai akhir tahun ini bisa mencapai 229 juta dollar AS atau sekitar 2,29 triliun rupiah. Angka itu, masih lebih rendah dibanding realisasi pendapatan 2008 yang mencapai 303,3 juta dollar AS.

Herman optimistis pihaknya bisa memenangi ternder yang diadakan TOTAL dan Conoco Philips disebabkan kualitas produk yang dihasilkan perusahaan cukup baik. Sementara itu, perusahaan pesaing di luar negeri sedang mengalami masalah akibat dampak krisis keuangan global.

Perseroan memiliki produk pipa baja dengan kandungan lokal saat ini sudah mencapai lebih dari 50 persen, sehingga bisa dikatakan pipa baja yang dihasilkan perseroan merupakan produk nasional.

Direktur Keuangan Citra Tubindo, Hedy Willuan menambahkan, perseroan selama ini memang mengandalkan penjualannya dari pasar ekspor yakni lebih dari 70 persen. Oleh karena itu, resesi global yang terjadi saat ini menyebabkan penjualan mengalami penurunan.

Nilai penjualan sampai akhir tahun diprediksi hanya 229 juta dollar AS, turun 24,5 persen dibanding realisasi 2008 yang mencapai 303,3 juta dollar AS.

Meski penjualannya mengalami penurunan, kata Hedy, kewajiban perseroan terhadap lembaga keuangan seperti bank tidak mengalami masalah, karena tidak ada pinjaman yang akan jatuh tempo dalam waktu dekat ini.

Namun, perseroan tetap waspada dan memperketat pengeluarannya serta menjaga arus kas agar neraca keuangannya tetap terjaga baik. Perseroan belum berencana mencari sumber pembiayaan baru, karena investasi dan ekspansi usaha untuk beberapa tahun kedepan akan dibatasi. Selain itu perseroan juga masih memiliki fasilitas kredit dari salah satu Bank asing yang berkantor pusat di Hongkong sejumlah 8,0 juta dollar AS.

Menurut Hedy, pihaknya optimistis kinerja tahun depan bisa lebih baik dibanding tahun ini karena saat ini peluang untuk masuk ke pasar global makin terbuka setelah perusahaan baja raksasa dari Perancis dan Jerman yakni Vallourec and Mannesmann dan Premium Holding Ltd menguasai saham perseroan sekitar 36,25 persen per Agustus 2009.

Selain itu, masuknya perusahaan investasi asal Hongkong yakni Kestrel Wave Investment Ltd (KWIL) per Agustus 2009 sebagai salah satu pemegang saham utama dengan kepemilikan 41,96 persen juga menjadi jalan bagi perusahaan untuk penetrasi pasar global.

KWIL membeli saham Citra Tubindo pada 23 Januari 2009 sebanyak 298.574.220 lembar saham atau 37,32 persen kepemilikan. Perusahaan itu pada 29 Januari 2009 melanjutkan kembali pembelian saham Citra Tubindo sebanyak 22.146.150 lembar saham sehingga kepemilikannya menjadi 40,09 persen. Pada tanggal 28 April dilakukan ternder offer dan membeli saham publik sehingga jumlah sahamnya meningkat menjadi 335.648.840 lembar atau 41,96 persern kepemilikan.

Kepala Riset PT Recapital Securities Poltak Hotradero mengatakan, prospek bisnis perusahaan pipa baja cukup baik karena masih banyak perusahaan Migas yang membutuhkan pipa baja untuk sarana distribusinya. Bahkan, kegiatan eksplorasi Migas tahun depan diperkirakan marak sehingga permintaan pipa baja akan meningkat signifikan. (agus salim)

UMK Batam Lebih Tinggi Dari Jakarta


BATAM – Pemerintah Kota Batam melalui Dinas Tenaga Kerja diketahui bakal mengusulkan kenaikan Upah Minimum Kota (UMK) Batam sebesar 20,3 persen mengikuti nilai Kebutuhan Hidup Layak (KHL) sebesar 1.257.183 rupiah, angka itu lebih tinggi dari UMK Jakarta tahun ini yang hanya 1.069.865 rupiah. Namun, sejumlah pengusaha siap siap menolak usulan tersebut, karena akan membebani perusahaan ditengah bisnis yang sedang lesu akibat dampak resesi global.

Ketua Himpunan Kawasan Industri (HKI) Batam Oka Simatupang mengatakan, pemerintah kota Batam mestinya tidak terlalu terburu buru mengusulkan angka untuk UMK Batam tahun depan, pasalnya sebelum memutuskan hal itu harus dipertimbangkan terlebih dahulu dengan kondisi saat ini, baik itu kondisi perusahaan atau industri yang ada di Batam dan kondisi angka kebutuhan hidup layak.

“Semua pihak mestinya menahan diri terlebih dahulu soal UMK 2010 karena hal itu sangat sensitive, dan sebelum memutuskannya harus dipertimbangkan kondisi ekonomi saat ini dan sudah sejauh mana perbaikan ekonomi yang telah dilakukan pemerintah berdampak pada perusahaan,” katanya.

Disamping itu, recovery atau perbaikan ekonomi yang telah dilakukan pemerintah juga perlu dievaluasi apakah sudah berhasil memperbaiki iklim usaha yang lebih kondusif sehingga perusahaan bisa memperoleh pendapatan yang cukup untuk membayar para pekerjanya.

Menurut Oka, banyak perusahaan di Batam saat ini sedang mengalami tekanan karena ordernya turun sehingga banyak perusahaan yang telah merumahkan karyawannya. Oleh karena itu, bila UMK tahun depan dinaikan dikuatirkan akan berimbas pada ketidakmampuan perusahaan untuk membayar gaji pekerja sehingga akan karyawan yang di rumahkan atau di PHK.

Melebihi Jakarta

Bila UMK Batam tahun 2010 ternyata ditetapkan sebesar 1.257.183, berarti angka tersebut merupakan angka tertinggi di Indonesia, melebihi UMK DKI Jakarta tahun 2009 yang hanya 1.069.865 rupiah.


Menurut Oka, hal itu harus dipertimbangkan oleh pemerintah dan Dewan Pengupahan, karena dengan UMK yang tinggi dikuatirkan akan mengurangi daya tarik Batam.

Kepala Dinas Tenaga Kerja Kota Batam, Rudi Sakyakirty mengatakan, Pembahasan upah minimum kota (UMK) Batam untuk tahun 2010 akan dilakukan 16 Oktober nanti. Meski demikian, Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) sudah punya usulan kenaikan UMK 2010 sebesar 20,3 persen menjadi 1.257.183 rupiah dari 1.045.000 di 2009.

Dikatakan, kesepakatan mengenai UMK ini akan dibuat dalam rapat dewan pengupahan yang terdiri dari unsur pemerintah, pekerja, dan pengusaha.

Sebelum mengusulkan jumlah UMK tersebut, Dewan Pengupahan telah melakukan survei harga kebutuhan pokok dan perumahan. Hasil survei hingga kini masih dibahas di dewan pengupahan maupun serikat pekerja.

Sementara itu, dari survei yang dilakukan Dewan Pengupahan pada Bulan September lalu, nilai Kebutuhan Hidup Layak (KHL) di Kota Batam sebesar 1,257,183. Angka itu akan menjadi patokan untuk diusulkan menjadi UMK Batam 2010.

“Patokan untuk memutuskan UMK memang harus mengacu pada KHL atau mendekati angka KHL,” katanya. Oleh sebab itu, Disnaker Kota Batam akan mengusulkan supaya UMK 2010 di atas angka kehidupan hidup layak (KHL).

Menurut Rudi, pembahasan soal UMK 2010 tersebut diperkirakan bakal berjalan alot oleh karena itu, Jika terjadi deadlock atau jalan buntu, maka Pemko akan membetuk tim dan mengusulkan angka kepada Walikota.

“Pemerintah dalam hal ini hanya bertindak sebagai fasilitator karena yang mengusulkan angka adalah serikat pekerja dan pengusaha. Dalam pembahasan itu akan ada negosiasi-negosiasi dari nilai UMK yang mereka usulkan,” katanya. (agus salim).

PT Asia Pasifik Fibers Tbk Perbesar Pasar Domestik



BATAM – Perusahaan serat sintetis, PT Asia Pasifik Fibers Tbk yang dahulu bernama PT Polysindo Eka Perkasa Tbk meningkatkan penjualan di pasar domestik dari 60 persen di awal tahun menjadi 80 persen saat ini terhadap total seluruh penjualan, karena melambatnya permintaan luar negeri akibat resesi global dan dipengaruhi peningkatan permintaan pasar domestik.

Sekretaris Perusahaan Asia Pasifik Fibers H. Tunaryo mengatakan, perseroan telah meningkatkan penjualan di pasar domestik sejak Juni 2009 menjadi 80 persen dari 60 persen terhadap total penjualan. Itu disebabkan meningkatnya permintaan serat sintetis di dalam negeri dipengaruhi upaya pemerintah yang telah memberdayakan industri tekstil melalui program restrukturisasi mesin produksi.

“Berapapun produksi yang kami hasilkan mampu diserap pasar lokal, oleh karena itu proporsi penjualan ekspor kami kurangi dan penjualan lokal ditingkatkan menjadi 80 persen,” katanya.

Meski pasar domestik diperbesar, kata dia, kapasitas produksi atau utilisasi pabrik di Karawang dan Semarang belum bisa ditingkatkan dari posisi saat ini yang sudah mencapai 90 persen untuk pabrik di Karawang dan 60-65 persen untuk pabrik di Semarang.

Itu disebabkan, belum tersedianya dana untuk menambah kapasitas pabrik dengan membeli mesin baru, karena perseroan belum bisa melakukan pinjaman ke bank disebabkan ditahan asset perusahaan oleh PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA) sebagai jaminan utang yang sampai saat ini belum diselesaikan.

“Seluruh ekspansi usaha terpaksa di tunda karena proses restrukturisasi belum rampung dengan PPA,” katanya. Perseroan, kata Tunaryo setidaknya membutuhkan pinjaman bank sekitar 50 juta sampai 75 juta dollar AS untuk modal kerja guna membeli tambahan mesin produksi.

Meski pinjaman bank tidak bisa dilakukan, kata Tunaryo, perseroan masih bisa membiayai working capital- nya dari kas internal dan suntikan dana dari pemegang saham mayoritas yakni Damiano Investment BV dari Belanda. Damiano Investment BV yang memiliki 60,70 persen saham di PT Asia Pasifik Fibers Tbk diketahui telah menyuntikan dana sebesar 35,4 juta dollar AS pada 2008 dan tahun ini dana yang disuntikan senilai 37,9 juta dollar AS.

Bahan Baku Turun



Terhadap kinerja tahun ini, Tunaryo optimistis penjualan dan laba bersihnya bisa lebih tinggi dibanding 2008. Itu disebabkan beberapa faktor antara lain, maraknya industri tekstil di dalam negeri yang disebabkan program restrukturisasi industri tekstil yang dicanangkan pemerintah yang menyebabkan permintaan serat sintetis naik. Selain itu, nilai tukar rupiah yang menguat juga akan memperbesar laba perseroan. Serta dipengaruhi oleh turunnya harga bahan baku Parraxylene.

itu terlihat dari diperolehnya laba di semester satu ini yang mencapai 613 miliar rupiah, padahal di periode sama tahun lalu perseroan mengalami rugi bersih 117,35 miliar rupiah.

Sementara itu, nilai penjualan di semester satu ini 1,8 triliun rupiah turun 12,3 persen dibanding perode sama 208 yang 2,1 triliun rupiah. Menurut Tunaryo penurunan itu bukan disebabkan oleh merosotnya kinerja perusahaan tetapi dipengaruhi oleh tidak masuknya angka penjualan dari anak usaha PT Texmaco Jaya yang telah berhenti operasi awal tahun lalu.

Terkait dengan penurunan bahan baku Paraxylene, menurut Tunaryo harga bahan baku tersebut turun sekitar 20 persen dari 1.200 dollar AS per ton pada awal tahun 2008 menjadi 960 dollar AS per ton saat ini. Penurunan harga bahan baku itu, menyebabkan biaya produksi turun signifikan.

Direktur Direktorat Industri TPT Departemen Perindustrian Arryanto Sagala ketika dikonfirmasi Koran Jakarta mengatakan, bisnis tekstil dan turunannya seperti serat tekstil cukup prospektif tahun ini dan tahun tahun mendatang, karena pasar di dalam negeri cukup potensial dan tidak terlalu parah terkena dampak krisis keuangan global sehingga permintaan masih tetap tinggi. Selain itu, pasar luar negeri seperti Amerika Serikat yang selama ini menjadi pasar utama Indonesia juga mulai pulih dari dampak resesi global.

Oleh sebab itu, program restrukturisasi industri tekstil yang dicanangkan pemerintah tahun ini penyerapannya lebih besar dibanding 2008 yakni sekitar 72-75 persen sedangkan 2008 hanya 55 persen.

“Prospek bisnis industri tekstil nasional cukup menjanjikan, itu terlihat dari tingginya minat perusahaan tekstil yang ingin ikut program restrukturisasi,” katanya, Selasa (18/10).

Sebagai contoh kata dia, untuk tahap pertama dari program restrukturisasi industri tekstil terdapat 183 perusahaan yang mengajukan program restrukturisasi dengan nilai investasi yang akan ditanamkan menacpai 1,77 triliun rupiah dengan jumlah kredit diperkirakan 168,64 miliar rupiah. Dari ajuan tersebut, kata Arryanto, yang direalisasikan oleh pemerintah sebanyak 163 perusahaan dengan investasi senilai 1,68 triliun rupiah dan nilai bantuan atau kredit sebesar 143,4 miliar rupiah.

Sedangkan tahap kedua, sebanyak 27 perusahaan tekstil yang mengajukan program restrukturisasi dengan nilai investasi 71,46 miliar rupiah dan perkiraan kreditnya sejumlah 46,906 miliar rupiah. Dari jumlah itu, yang direalisasikan pemerintah sebanyak 16 perusahaan dengan nilai investasi 48,57 miliar rupiah dan jumlah kreditnya sekitar 29 miliar rupiah.

Meski penyerapan program restrukturisasi industri tekstil naik, katanya namun target ekspor nasional sebesar 11,83 miliar dollar AS sulit tercapai, karena rendahnya penyerapan dari pasar Amerika. Nilai ekspor tahun ini diperkirakan sama dengan 2008 yang 10,83 miliar dollar AS. (agus salim).

Berpelesir ke Penyengat





Pulau Penyengat di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) merupakan satu dari sekian banyak tempat wisata menarik di Indonesia. Keunikan pulau dengan luas 240 hektar tersebut terletak pada sejarah, kisah cinta sejati Raja Melayu dan petuah Raja Ali Haji yang terkenal dengan Gurindam 12.